Berjilbab, Menunggu Iman Kuat?

Sahabatku, di luar sana masih banyak, kaum hawa yang enggan mengenakan pakaian penutup auratnya ketika keluar rumah, dengan berbagai alasan masing-masing. Padahal ketentuan pakaian wanita (jilbab, kerudung) itu adalah ketentuan syariat yang pastinya dari Allah Subhanahu wa ta’ala, Sang Pencipta kita.

Tapi kenapa masih saja ada keraguan untuk mengerjakan sebuah perintah yang sama wajibnya seperti sholat, zakat, puasa atau haji?

Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala, sudah menyampaikan:

”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36).

Tentu dengan berbagai latar belakang alasan, kaum hawa masih enggan menutup aurat. Setidaknya kalau mau disederhanakan latar belakang alasannya, ada 2 faktor, yakni faktor internal dan eksternal.

Faktor internal berasal dari diri si wanita yang bersangkutan, bisa jadi salah satunya karena masih tipisnya keimanan. Terutama keimanan terhadap Allah, sehingga masih mikir beribu-ribu kali untuk mengenakan jilbab.

Faktor eksternal, biasanya yang paling kuat pengaruhnya adalah teman. Ya, takut nggak punya teman, takut diledekin ‘bu haji’, ‘sok alim’, ‘ninja’ oleh teman-temannya. Termasuk faktor eksternal adalah kurangnya dukungan dari orang tua terhadap si anak untuk mengenak jilbab. Orang tua masih banyak yang takut anaknya sulit dapat kerja, sulit jodoh, kalau sudah berjilbab.

berhijab

500px.com

Lengkap sudah kegalauan kaum wanita muslimah antara melaksanakan kewajiban berjilbab atau ngikutin ‘kata hati’. Nah, ujung-ujungnya, karena faktor internalnya lemah dan faktor eksternal kurang mendukung, jadilah si wanita tersebut enggan berjilbab.

Tapi apakah alasan-alasan tersebut, membuat wanita dapat ‘keringanan’ untuk tidak berkerudung? Mengingat, di luar sana banyak kata sumbang yang mengatakan “berjilbab kan perlu persiapan, nggak bisa dipaksa”, atau “dijilbabin hatinya dulu, baru nanti jilbab yang sebenarnya”.

Maka, demi mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu, harusnya kita berani mengatakan bahwa perintah berjilbab bagi wanita itu wajib, sama wajibnya seperti sholat, dan jika ditinggalin akan berdosa.

Mendengar kata dosa atau neraka, bagi yang punya keimanan cukup kuat, pasti akan berpikir untuk tidak menolak berjilbab. Sehingga yang benar, sekaligus menanggapi pernyataan meragukan tadi, maka harus seiring sejalan, antara niat yang kuat, keimanan yang diperkokoh, terus sekarang juga untuk berjilbab. Tidak bisa beralasan “entar aja, kalau imannya sudah kuat, baru berjilbab”. Jadi sekali lagi yang benar, memperkuat keimanan dan saat itu juga berjilbab.

Sebab alasan macam “nunggu iman kuat” seringkali nggak ada batas waktu yang jelas, sampai kapan waktunya. Di sisi yang lain perintah berjilbab ini wajib dan kita juga nggak tahu, lebih duluan mana, antara melaksanakan berjilbab atau keburu ajal sudah datang.

Sebagai bahan renungan bagi kaum hawa dan orang-orang di sekitarnya yang masih melarang kaum muslimah memakai jilbab dan kerudung, kita simak hadits berikut:

“Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.” (HR. Imam Muslim).

Semoga bermanfaat.

Tags:,

Leave a Reply