Contoh Gurindam Dua Belas Lengkap Beserta Maknanya

Gurindam Dua Belas – Gurindam adalah puisi lama yang saat ini masih sangat digemari. Gurindam pertama kali dibawa ke Nusantara oleh seorang penyebar agama Hindu dari Tamil (India), sehingga wajar jika gurindam versi kuno banyak didapati pengaruh ajaran Hindu dalam sastra-sastranya.

Setelah masuk ke Nusantara, gurindam mengalami banyak perubahan, baik versi bahasa Melayu maupun bahasa Indonesia.

Jika dilihat dari barisnya, gurindam terbagi menjadi 2, yaitu gurindam berkait dan gurindam berangkai.

Gurindam dilihat dari isi pesannya ada gurindam nasihat, gurindam pendidikan, gurindam cinta, gurindam agama, gurindam motivasi, gurindam budi pekerti, guindam moral, gurindam lingkungan hidup, gurindam sahabat, gurindam 12 dan lain sebagainya.

Dari sekian tema gurindam tersebut, yang paling terkenal adalah gurindam dua belas (12) yang dikarang oleh Raja Ali Haji pada tahun 1847. Gurindam karya Raja Ali haji tersebut dinamakan gurindam 12 karena terdiri atas 12 fasal yang berisi nasihat dan petunjuk menuju hidup yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selain itu, gurindam 12 juga berisi pelajaran dasar ilmu tasawuf tentang mengenal ‘yang empat’; yaitu syariat, tarikat, hakikat dan makrifat.

Gurindam 12 pertama kali diterbitkan pada tahun 1854 dalam Tijdschrft  van het Bataviaasch Genootschap No. II, Batavia. Gurindam 12 awalnya berbahasa Arab, kemudian oleh Elisa Netscher diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda.

Rekomendasi bacaan: Pengertian, Ciri-ciri dan Contoh Gurindam dari Berbagai Tema

Berikut isi gurindam 12 berserta maknanya,

Fasal 1

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

  • Maksudnya setiap orang harus beragama karena agama sangat penting baginya, orang yang tidak beragama akan buta arah dalam menjalankan hidupnya.

Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang ma’rifat

  • Untuk mencapai kesempurnaan di dalam kehidupan, manusia harus mengenal empat hal. Empat hal tersebut adalah syariat, tarikat, hakikat dan makrifat.

Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah

  • Orang yang mengenal Allah SWT, pastinya ia menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri

  • Orang yang memahami penciptaan dirinya, maka ia telah mengenal Penciptanya.

Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang terpedaya

  • Orang yang mengetahui bahwa dunia itu fana, ia akan berhati-hati menjalani kehidupan, ia tahu bahw dunia hanyalah tempat tipu daya.

Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudharat

  • Orang yang menyakini adanya akhirat, pasti ia juga yakin bahwa dunia tempatnya kemudharatan.

Fasal 2

Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut

  • Seorang yang meyakini hal-hal di atas (Allah, penciptaan diri, agama, dunia dan akhirat), ia akan semakin takut jika melanggar aturan-Nya.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang

  • Perumpamaan orang yang meninggalkan shalat seperti rumah tanpa tiang, karena sejatinya shalat adalah tiangnya agama.

Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa

  • Orang yang meninggalkan puasa wajib akan kehilangan kenikmatan kehidupan dunia dan akhirat.

Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat

  • Orang yang tidak mau membayar zakat, hartanya tidak akan mendapat keberkahan. baik di dunia terlebih di akhirat.

Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji

  • Orang yang tidak melaksanakan ibadah haji, ia akan mudah menginkari janji yang ia buat.

Fasal 3

Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita

  • Kita harus mempergunakan mata dengan sebaik-baiknya, jangan sampai menggunakannya untuk melihat yang dilarang Allah SWT.

Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadalah damping

  • Telinga arus dijauhkan dari segala dosa pendengaran, seperti gunjingan, hasutan, gosip serta dosa pendengarana lainnya.

Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya faedah

  • Orang yang senantiasa menjaga bicaranya, ia akan memperoleh banyak manfaat.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan

  • Berusahalah menjaga tangan dari perbuatan sia-sia dan dilarang agama.

Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh

  • Jangan makan terlalu kenyang, karena hal itu akan menyebabkan berbuat yang tidak baik.

Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

  • Jagalah angota tubuh yang tengah (kemaluan),  karena itu yang menyebabkan banyak orang kehilangan semangat hidup (jika terlanjur melakukan zina).

Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjalan yang membawa rugi

  • Langkahkah kakimu ke tempat-tempat yang diridhai Allah, jika tidak maka akan menyebabkan kerugian.

Fasal 4

Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

  • Hati merupakan pusat kendali semua anggota tubuh, jika ia melakukan kezaliman akan menyebabkan kerugian semua anggora tubuh.

Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah

  • Hati yang dengki akan merugikan diri sendiri.

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir

  • berhati-hatilah dalam berbicara, banyak yang tergelincir hanya karena salah bicara.

Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala

  • Jangan memperturutkan amarah, ia dapat menghilangkan akal sehat.

Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekong

  • Orang yang sudah terbiasa berbohong, jika berbicara pasti ada unsur kebohongannya meskipun sedikit.

Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka

  • Orang yang celaka adalah orang yang tidak menyadari kesalahannya sendiri.

Bakhil jangan diberi singgah,
Itulah perampok yang amat gagah

  • Jangan memelihara sifat kikir dan bakhil, justru sifat itu yang akan menguras habis hartanya.

Barang siapa yang sudah besar,
Janganlah kelakuannya membuat kasar

  • Jangan sampai dengan bertambahnya usia, menjadikanmu bertambah kasar. Milikilah sikap bijaksana dalam setiap perbuatan.

Barang siapa perkataan kotor,
Mulutnya itu umpama ketor

  • Perkataan yang kita keluarkan hendaklah terhindar dari perkataan kotor.

Di mana tahu salah diri,
Jika tidak orang lain yang berperi

  • Setiap kesalahan yang kita perbuat, kita harus meminta maaf kepada orang yang kita dhalimi.

Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih

  • Jangan mengambil pekerjaan yang dilarang agama.

Fasal 5

Jika hendak mengenal orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa

  • Kita dapat mengenal suatu bangsa dari perilaku dan bahasanya.

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia

  • Orang yang bahagia adalah orang yang meninggalkan perbuatan tidak berguna dan sia-sia.

Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia

  • Orang yang mulia dan terhormat bisa dilihat dari sikap dan perilakunya.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu

  • Orang yang berilmu tidak akan pernah bosan belajar dan mengambil pelajaran dari kehidupannya.

Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal

  • Orang yang berakal telah mempersiapkan bekalnya di dunia, untuk menjalani kehidupannya di akhirat.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

  • Jika ingin melihat orang yang berbudi luhur, lihatlah ketika ia bergaul dengan orang lain.

Fasal 6

Cahari olehmu akan sahabat,
Yang boleh dijadikan obat

  • Carilah sahabat setia yang mau membantu kita dalam setiap kondisi.

Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru

  • Carilah guru bijaksana, yang bisa tidak menyembungikan ilmunya dan dapat mendamaikan orang yang berseteru.

Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh menyerahkan diri

  • Carilah sitri yang selalu berbakti kepada suami.

Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan

  • Carilah teman yang setia, baik di saat kita senang maupun susah.

Cahari olehmu akan abdi,
Yang ada baik sedikit budi

  • Carilah pengikut/pembantu yang memiliki budi pekerti luhur.

Fasal 7

Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta

  • Orang yang banyak bicaranya, akan mudah melakukan kebohongan.

Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
Itulah tanda hampirkan duka

  • Apabila terlalu mengharapkan sesuatu, akan menimbulkan kekecewaan saat sesuatu tersebut tidak didapat.

Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

  • Setiap perkerjaan harus memiliki strategi dan persiapannya.

Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih

  • Jika anak tidak dididik dengan benar, ketika besar akan membangkang dan menyusahkan orang tuanya.

Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang

  • Orang yang sering menghina orang lain, pertanda dia merasa kurang sempurna.

Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sajalah umur

  • Jangan menyia-nyiakan umur dengan perbuatan yang tidak bermanfaat.

Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar

  • Bila mendengar kabar duka atau kurang menyenangkan, hendaklah sabar dan menerima dengan lapang dada.

Apabila mendengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan

  • Jangan mudah terpengaruh dengan omongan orang lain.

Apabila perkataan yang lemah lembut,
Lekaslah segala orang mengikut

  • Perkataan yang lemah lembut akan mudah diterima dan didengar orang lain.

Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar

  • Perkataan yang kasar membuat orang yang mendengarnya tidak nyaman dan resah.

Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat onar

  • Orang yang baik tidak boleh difitnah.

Fasal 8

Barang siapa khianat akan dirinya,
Apalagi kepada lainnya

  • Orang yang mempunyai sifat khianat dalam dirinya, pasti ia akan berkhianat kepada orang lain.

Kepada dirinya ia aniaya,
Orang itu jangan engkau percaya

  • Jika kepada diri sendiri saja ia melakukan aniaya, maka jangan pernah mempercayainya.

Lidah yang suka membenarkan dirinya,
Daripada yang lain dapat kesalahannya

  • Jangan suka menganggap diri sendiri paling benar dan suka menyalahkan orang lain.

Daripada memuji diri hendaklah sabar,
Biar pada orang datangnya khabar

  • Daripada memuji diri sendiri, lebih baik berbuat baiklah kepada orang lain, agar kamu dipuji oleh orang lain.

Orang yang suka menampakkan jasa,
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa

  • Jangan menginginkan imbalan dari setiap bantuan yang kita perbuat.

Kejahatan diri sembunyikan,
Kebajikan diri diamkan

  • Sifat-sifat buruk dalam diri hendaknya disembunyikan, begitu pula kebaikan yang pernah diperbuat.

Ke’aiban orang jangan dibuka,
Ke’aiban diri hendaklah sangka

  • Jangan menyebarkan aib orang lain, hendaklah melihat pada aibnya sendiri.

Fasal 9

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaitulah syaitan

  • Orang yang tetap mengerjakan perbuatan yang tidak baik padahal ia sudah tahu, ia bukanlah manusia melainkan setan.

Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa

  • Orang tua yang masih melakukan kejahatan, ia bagaikan pimpinan setan.

Kepada segaia hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja

  • Jangan engkau tergoda akan kekayaan para raja, karena di situlah tempat setan menggoda manusia.

Kebanyakan orang yang muda-muda,
Di situlah syaitan tempat bergoda

  • Masa muda jangan mudah tergoda dengan rayuan setan.

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan

  • Perkumpulan laki-laki dan perempuan adalah tempat setan melakukan godaannya.

Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat

  • Orang yang semasa mudanya tidak menyia-nyiakan waktunya, setan tidak suka kepada orang tersebut.

Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru

  • Masa muda yang digunakan untuk menuntut ilmu, setan akan menjadi musuhnya.

Fasal 10

Dengan bapa jangan durhaka,
Supaya Allah tidak murka

  • Jangan durhaka kepada orang tua, agar Allah tidak murka kepadamu.

Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat

  • Setiap anak harus patuh dan hormat kepada ibunya, agar selamat di akhirat kelak.

Dengan anak janganlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai

  • Jangan pernah melalaikan tanggung jawab mendidik anak, maka kamu akan bahagia dunia akhirat.

Dengan kawan hendaklah adil,
Supaya tangannya jadi kafil

  • Bersikap adillah kepada temanmu, agar ia dapat menjadi penolongmu kelak.

Fasal 11

Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa

  • Hendaklah menjadi orang yang berjasa dan bermanfaat untuk bangsa.

Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai yang cela

  • Jika kamu menjadi pemimpin, hilangkan perangai buruk dan tercela.

Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat

  • Begitu juga pegang amanat kepemimpinan tersebut, jangan sampai mengkhianati masyarakat.

Hendak marah,
Dahulukan hajat

  • Jika hendak melampiasakan kemarahan pikir ulang lagi, apakah marah tersebut akan mendatangkan kebaikan dan menyelesaikan hajat orang banyak.

Hendak dimulai,
Jangan melalui

  • Segala sesuatu perlu awal yang baik.

Hendak ramai,
Murahkan perangai

  • Jika ingin dikenal baik, jagalah perilaku dan budi pekerti.

Fasal 12

Raja muafakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri

  • Hubungan raja dengan menterinya adalah saling bekerjasama dan menjaga satu sama lain.

Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja

  • Raja yang adil kepada rakyatnya dalah raja yang mendapat petunjuk dari Allah SWT.

Hukum adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh inayat

  • Raja yang mendapat petunjuk Allah SWT akan melaksanakan hukum yang adil bagi rakyatnya.

Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu

  • Bila kamu menghormati orang berilmu, tandanya kamu mendapat rahmat dari Allah.

Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai

  • Menghormati orang berilmu, tanda ia mengenal kematian yang merupakan gerbang alam akhirat.

Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti

  • Bila manusia mengingat kematian, ia akan lebih berbakti kepada Allah SWT.

Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta

  • Orang yang tidak buta mata hatinya, akan meyakini bahwa akhirat benar adanya.

Demikian contoh gurindam dua belas beserta maknanya. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply