CROP CIRCLE DI SLEMAN DAN BANTUL YOGYAKARTA BUATAN MANUSIA

Crop Circle di Sleman dan Bantul Yogyakarta yang terjadi pada tahun yang lalu telah menjadi pusat perhatian masyarakat setidaknya hingga artikel ini ditulis. Sebenarnya apa yang menjadi penyebab pada masyarakat sehingga adanya crop circle tersebut menjadikan berita yang sangat menghebohkan. Bahkan sampai ada korban yang meninggal dunia karena menonton crop circle tersebut. Dan pada akhirnya diputuskan bahwa crop circle tersebut hanyalah buatan manusia. Dari kejadian tersebut setidaknya kita belajar untuk beberapa hal yang mungkin selama ini terabaikan atau bahkan belum terpikirkan sama sekali.

1. Berpola pikirlah lebih logis terhadap hal-hal seperti crop circle ini. Karena dengan penekanan pemikiran yang masuk akal dan mempunyai dasar yang jelas setidaknya akan menuntun tindakan kita untuk lebih mempertimbangkan untung-rugi atau baik-tidaknya apa yang akan dilakukan.
Contoh: Jika crop circle itu adalah buatan makluk luar angkasa dan dilakukan dengan teknologi tinggi yang manusia dibumi saja belum mampu mendeteksi, gak perlulah mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi, kalau perlu dengan dibarengi serangan ke bumi, toh mereka lebih maju? Namun aktualnya tidak seperti itu-kan!.

2. Kejadian ditemukan seperti crop circle ini telah ditemukan sejak empat ratus tahun yang lalu, dan polanya tidak pernah berubah. Masih tetap misteri karena dilakukan tanpa sepengetahuan manusia. Logikannya adalah semakin kesini seharusnya ada perkembangan dari pola dan cara dibuatnya crop circle tersebut! Yang namanya setan saja semakin maju seiring dengan kemajuan manusia pula, masa sih makluk luar angkasa tidak berkembang?. Malah yang paling mengkawatirkan adalah jika crop circle tersebut adalah salah satu tipu daya setan! Berarti kita telah berhasil ditipu oleh setan, setidaknya untuk beberapa saat.

3. Saya sebagai manusia yang hidup di Indonesia telah menyadari bahwa pola pikir masyarakat kita masih perlu ditingkatkan. Terutama menghadapi hal-hal yang terlihat spektakuler, sehingga mudah terpengaruh tanpa mempertimbangkan kemandirian dalam berpikir.
Contoh yang mudah: Di Indonesia sinetron adalah hiburan dengan ranking teratas dari pemilihan masyarakat. Hal tersebut terbukti dari jumlah iklan yang mampu disaring, serta waktu tayang yang hingga bertahun-tahun. Yang tidak habis pikir adalah jalan cerita sinetron tersebut yang terkesan saling berganti peran antara bintang sinetronnya yaitu sekitar sakit, sembuh, jahat, baik yang diputar-putar tidak jelas muaranya!, yang tiba-tiba tayangannya bisa berhenti mendadak jika rating turun dratis!, aneh-kan??? Namun itulah yang disukai oleh mayoritas masyarakat kita. Apalagi menghadapi hal seperti crop circle tersebut, sudah pasti heboh, walaupun jika ditanya alasannya kenapa mayoritas jawaban adalah “ikutan trend saja”. Hemm, capek dueeh!.

Itu saja deh sedikit masukkan mengenai bagaimana sebaiknya kita bersikap jika menghadapi hal-hal seperti crop circle tersebut. Diharapkan berpikirlah lebih cerdas dan logis agar negara ini lebih cepat maju dan bisa menyusul ketertinggalan teknologi dari negara lain misalnya China.

Leave a Reply