Energi Positif dan Selingkuh 2 Butir Kacang Ijo

Pernahkah kamu menggosipkan seseorang bersama dengan beberapa teman-temanmu, lalu tiba-tiba pintu ruangan tempat kamu bergosip ria tersebut tiba-tiba diketuk, saat kamu buka ternyata orang yang mengetuk adalah orang yang sedang kamu gosipkan. Atau mungkin kamu sedang menertawakannya dan tiba-tiba ia muncul di hadapanmu?

Hemm, banyak sekali kejadian seperti itu. Di dalam rapat misalnya, ketika seorang pimpinan sedang mengevaluasi anak buahnya, lalu mendapat tanggapan beragam dari karyawan-karyawan lain, mendadak anak buah yang sedang dievaluasi tadi tiba-tiba muncul dan masuk ruang rapat. Serta merta semua yang ada di dalam ruang rapat menjadi bungkam dan mengalihkan pembicaraan.

Dari dua contoh diatas, ternyata “kenyataan” tak jauh dari ujung lidah kita. Apa yang kita katakan acap kali menjadi kenyataan. Sebab itulah banyak sekali para alim ulama mengingatkan untuk berhati-hati dalam berkata-kata, sebab bisa menjadi doa.

Kalau tiba-tiba yang kita katakan tersebut diaminkan oleh malaikat dan terkabul, duh alangkah ngenes-nya jika itu hal yang buruk. Ingat 3 kunci  bicara; (1) apa yang dibicarakan, (2) dengan siapa berbicara, (3) di mana tempat berbicara. 3 nasihat ini patut kita renungkan jika kita ingin selamat dalam bergaul.

Ibarat berteriak di dalam lubang sumur, lalu gemanya menimpali teriakan kita sendiri. Maka demikian juga dengan energi. Berdasarkan hukum kekekalan energi, energi yang kembali pasti sama dengan nilai energi yang dikeluarkan. Jika energi yang kita keluarkan bernilai 10, maka yang akan kembali pun bernilai 10.

Jumlah energi yang diciptakan di dalam alam ini bersifat tetap. Ia tidak akan diciptakan lagi dan tidak akan pernah hilang. Semua telah diciptakan Allah secara sempurna dan lengkap tanpa tambal sulam. Tapi walaupun tetap, energi dapat berubah bentuk. Misalnya dalam proses alam air berubah menjadi uap. Kayu berubah menjadi bara api. Uranium menjadi bom, dan sebagainya.

Demikian juga dengan kita, saat beraktivitas kita dapat mengubah energi dari satu bentuk energi menjadi bentuk-bentuk energi lainnya. Contohnya, energi senyum menjadi cinta, energi ramah menjadi keakraban, energi belajar menjadi kepintaran, energi mengetik menjadi tulisan. Jadi sebenarnya tidak ada energi yang hilang atau terbuang percuma dan tidak ada pula yang ditambahkan.

energi positif dan negatif

www.pexels.com

Energi yang kita keluarkan saat bekerja mencari nafkah akan kita rasakan timbal baliknya dalam bentuk energi gaji dan apresiasi dari atasan. Intinya jika kita bisa mengeluarkan energi positif maka ia akan berbalik menjadi energi positif dalam wujud yang lain yang akan kita terima. Demikian sebaliknya jika yang kita keluarkan adalah energi negatif.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri sudah banyak mengingatkan kita, bahwa siapa yang mengeluarkan energi positif dalam membantu urusan saudaranya, maka Allah akan membalasnya dengan energi positif berupa kemudahan-kemudahan dalam berbagai urusannya. Yang lebih hebat lagi, bukan hanya urusan di dunia, bahkan akan berimbas pula pada kemudahan urusan di akhirat kelak. Luar biasa bukan?

Lalu bagaimana dengan energi negatif? Baiklah, ada sebuah cerita menarik berikut ini. kita beri tema “selingkuh kacang ijo”.

Begini ceritanya; Ada sepasang suami istri yang sudah cukup lama menikah. Lalu saat mereka berada di zaman Blackberry dan android serta segala macam sosial media lainnya, mereka berdua membuat sebuah kesepakatan. Sang suami meminta agar istrinya jangan pernah membuka ponsel miliknya sedang sang istri meminta agar suami jangan pernah membuka laci meja hias di kamarnya.

Keduanya sepakat dan berjanji untuk memegang teguh kesepakatan tersebut. Akhirnya dengan kesepakatan tersebut, suami menjadi semakin leluasa untuk berasyik masyuk dengan selingkuhannya, ia menyimpan nomor selingkuhannya, berkirim pesan mesra, bertukar foto-foto, tanpa perlu khawatir istrinya akan membaca, melihat, apalagi mengganggunya. Intinya semuanya akan tampak normal-normal saja tanpa takut terendus.

Hari demi hari berjalan, bulan, tahun, hingga tibalah bilangan 10 tahun. Kesepakatan itu pun mulai goyah, sang suami merasa tergoda untuk melihat isi laci lemari hias istrinya. Ia pun diam-diam melihat isi laci tersebut, dan bukan main dia terkejut, ternyata isinya hanya 2 butir kacang ijo dan selembar uang Rp. 5000-an. “Ya ampun, cuma ini yang tidak boleh aku ketahui selama 10 tahun ini” bisiknya.

Sang suami datang menemui istrinya, ia meminta maaf karena telah melanggar kesepakatan dan secara diam-diam melihat isi laci istrinya. Istrinya pun memaafkan. Dalam usia keduanya yang sudah masuk kepala lima tersebut, sang suami menyatakan penasarannya dan bertanya kepada istrinya mengenai arti uang 5000 dan 2 butir kacang ijo.

Sang istri berkata, “Setelah aku bercerita, apakah bapak berjanji akan tetap sayang dan cinta kepadaku?, “Pastilah sayangku, cinta dan kasihku kepadamu sampai mati memisahkan kita!, ucap sang suami.

Sambil menarik nafas panjang dan berusaha mengatur kata-katanya, sang istri memulai ceritanya;
“Suamiku, aku minta maaf, sebenarnya aku ini wanita rusak, tanpa sepengetahuanmu aku selalu berselingkuh saat kau tidak berada di rumah. Karena terasa manis, dan agar aku selalu ingat, aku selalu meletakkan sebutir kacang ijo di dalam laci meja hiasku setiap kali aku berselingkuh”.

Sang istri diam sejenak, sementara sang suami bergumam dalam hatinya “Oh gitu, tapi gak apa-apalah, dua butir kacang ijo berarti cuma dua kali selingkuh, sementara aku sudah puluhan kali”.

Untuk menjaga suasana, suami pun memeluk istrinya sambil berkata, “Istriku sayang, aku memaafkanmu atas perbuatan itu, aku tetap akan mencintaimu walau kau pernah selingkuh dua kali, cintaku tak akan pernah berkurang. Lantas bagaimana dengan uang Rp. 5000,- apa artinya itu bagimu?

Tiba-tiba sang istri menangis terisak, ia berkata sambil tersedu-sedu; “suamiku, kau tau laci meja hiasku itu sangat kecil, jadi aku menjual 1 Kilogram kacang ijo yang aku kumpulkan dan laku seharga Rp. 5000,-,

Suami; #@****(**!!!”- PINGSAN^%%$

Ternyata energi negatif sang suami berbalas energi negatif sang istri. Jadi, masihkah kita menyimpan energi negatif dalam diri kita?

(Cerita ini diolah dari buku “Makelar Rizki” karangan Jamil Azzaini).

Leave a Reply