Orang yang Tertipu Bagai Bunga Diatas Kuburan

Ghurur, adalah bagian dari wujud ketertipuan yang selalu bergerak secara sporadis dan rentan tak terdeteksi. Ia hadir dalam setiap perasaan manusia yang cenderung selalu ingin dipuji dan haus akan apresiasi. Karena ghurur adalah perasaan berbangga diri yang menipu, sebab ia telah merasa lebih dan merasa tak tertandingi, ia adalah gelagat jiwa yang mulai merayap melupakan firman Tuhannya “wa fawqo kulli dzi ilmin aliim”, atau dalam pribahasa kita “bahwa di atas langit masih berlapis langit-langit lainnya”.

Sifat inilah dulu yang selalu dikalungkan Fir’aun pada lehernya, yang dijadikan Qarun gembok pengunci gudang hartanya, yang dijadikan kaum Saba’ sebagai pondasi kehidupan mereka, dan yang dibalutkan Tsa’labah pada gemerlap kekayaannya.

Seperti air hujan yang menyirami kebun kaum kafir sehingga mereka berbangga akan kesuburan tanamannya, namun mendadak mereka tercengang ketika melihat tanamannya yang tadi indah dan bernas, kini berubah menjadi gersang, kering dan hancur, padahal  itu adalah teguran sayang dari Allah disebabkan mereka tertipu dan enggan menyembah Dzat yang telah menurunkan hujan bagi tanaman-tanaman mereka.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS, Al-Hadid (57):20)

Maka, inilah bentuk ketertipuan yang sejati. Tertipu untuk menyatakan rasa syukur dan amal-amal ubudiyah kepada Rabb semesta, dan itu semua tak lain karena terlalu mengidentifikasikan diri dengan materi, dengan kekuasaan, dengan pujaan. Ironisnya ia hanya merasa bermakna jika memiliki semua itu, maka selamanya ia memerlukan materi-materi tersebut dan sulit baginya untuk merendah dan tawadhu’.

Entahlah, mengapa kita sulit meniru Umar radhiyallahu anhu yang bisa tertidur pulas di bawah pohon, di alam terbuka, tanpa harus repot memproteksi diri dengan memasang perangkat dan sistem keamanannya. Itu semua karena keadilannya, ia semakin meninggi ketika ia merendah, ia tak tertipu oleh kekuasaannya, ia tak manja ketika semua orang menghormatinya, ia tak terbelenggu dengan bayang-bayang ke-ghurur-an.

Ia tak  menjadi bunga di atas kuburan, terlihat indah mekar dengan semerbak wangi yang menyebar namun ternyata di bawah rumpunnya yang indah hanya terbujur seonggok jasad yang tak lagi memiliki desah kehidupan, tak lagi mempunyai wujud gerak yang diharapkan. Wallahu’alam.

Leave a Reply