Harga Sembako Mahal, Petani Untung! Benarkah?

Akhir-akhir ini banyak ibu-ibu rumah tangga yang mengeluh karena uang belanja mereka sudah tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dimulai dari harga cabai yang meroket hingga ratusan ribu dan disusul dengan naiknya harga beras dan juga gula pasir. Dan mungkin sebentar lagi menyusul barang sembako lainnya.

Secara itung-itungan memang dengan naiknya harga sembako seolah-olah yang paling diuntungkan adalah petani karena merupakan kunci ketersedian sembako di pasaran. Namun benarkah petani yang untung?

Simak beberapa alasan yang di bawah ini yang menggambarkan bahwa hal tersebut belum tentu benar:

1. Dalam sejarah perekonomian di negara manapun, pola kenaikan harga sembako karena minimnya ketersediaan barang di pasar, dimulai pada level pedagang atau pemasok, baru kemudian petani menyesuaikan dengan permintaan.

Artinya apa? Pengendali utama terhadap harga sembako sebenarnya pedagang atau pemasok, sedangkan petani hanya sebagai bagian dari penyedia barang yang ketentuan harganya telah dipatok oleh para pedagang. Kalaupun ada petani yang mampu mengendalikan harga hingga ke pedagang, persentasenya sangat kecil karena mayoritas petani di Indonesia merupakan petani murni tanpa dibekali dengan kemampuan marketing product yang baik.

Lain halnya jika penentuan kenaikan harga sembako dilakukan oleh pemerintah seperti penentuan harga BBM, tentunya yang diuntungkan nomor satu ialah petani karena ruang gerak para pedagang menjadi lebih sempit dan sebaliknya akan terjadi peningkatan hasil dari petani karena telah adanya jaminan dari pemerintah mengenai harga sembako yang dihasilkannya. Sayangnya hingga saat ini metode seperti itu belum digunakan.

2. Secara kebetulan bagi petani yang saat panen kondisi harga sembako sedang tinggi, tentu saja merupakan keuntungan besar, namun benarkah hal tersebut mutlak?

Tentu saja tidak, karena perubahan harga tersebut terjadi dalam kondisi yang tidak stabil, kadang-kadang naik, kadang-kadang turun, sulit bagi petani untuk memprediksikannya. Yang akibatnya yaitu pertukaran antara keuntungan dan kerugian akan terjadi sejalan dengan ketidakpastian harga tersebut. Jadi kondisi perekonomian yang stabil mutlak untuk diciptakan.

3. Terjadinya perubahan pola hidup, baik di kota hingga di desa.

Jaman dulu hidup di desa tanpa mempunyai uang pun bisa makan, namun jaman sekarang tidaklah demikian. Hidup di kota maupun di desa saat ini untuk memenuhi kebutuhan sembakonya melalui transaksi pasar (kalau jaman dahulu, memetik sayuran di kebun pun cukup).

Sedangkan mayoritas pergerakan barang sembako terjadi di perkotaan yang tentu saja hukum dagang berlaku yaitu “semakin mudah barang di dapat maka semakin murah harganya”. Coba bayangkan, saat ini banyak barang-barang yang hanya tersedia di perkotaan namun dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan yang tentunya menjadikan harganya jauh lebih mahal dari pada harga di kota. Sembako petani dihargai mahal namun untuk membeli barang yang jauh lebih mahal dari harga di kota, jadinya impas saja tho!.

Ya, apapun kondisinya sekarang, kita wajib bersyukur karena kita diberi tempat hidup yang kekayaan alamnya melimpah. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mengolah kekayaan alam tersebut untuk sebaik-baiknya kehidupan masyarakat Indonesia.

Tags:

Leave a Reply