Antara Hukum Rajam dan Hukum Cambuk dalam Islam

Hukum Rajam dan Hukum Cambuk – Islam merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Tidak ada sesuatupun yang tertinggal kecuali telah diatur di dalam islam. Begitu juga dalam hal uqubah, telah diatur dalam islam. Salah satu hukuman yang dipandang kejam oleh orang-orang yang tidak mengetahui hakekat islam adalah had bagi pelaku zina.

Jika pelaku zina tersebut belum pernah menikah atau bikr, maka ia mendapatkan had seratus kali jilid dan diasingkan selama satu tahun. Akan tetapi jika pelaku zina tersebut pernah menikah atau muhson maka ia mendapatkan had rajam sampai meninggal dunia.

Dalam memahami had pelaku zina muhson ada perbedaan pendapat. Pendapat pertama, yaitu pendapat jumhur ulama berpendapat bahwasanya pelaku zina muhson mendapatkan had rajam saja tanpa adanya jilid. Sedangkan madzhab Dzahiriyah berpendapat harus ditegakkan hukuman had jilid terlebih dahulu kemudian disusul dengan had rajam.

Maka perbedaan pendapat tersebut merupakan hal yang penting sehingga kita sebagai kaum muslimin harus mengetahui sebenarnya mana pendapat yang lebih kuat diantara dua pendapat tersebut.

Maka dari itu, pada kesempatan ini penulis ingin membahas perbedaan pendapat diatas. Semoga dengan adanya makalah sederhana ini dapat bermangfaat khususnya bagi penulis pribadi dan secara umum untuk seluruh pembaca.

Sekilas Tentang Madzhab Dzahiriyah dan Pendapatnya

Penggagasnya ialah Abu Sulaiman Daud bin Ali Al-Asfahani Al-Dzahiri  (202-270 H).  Sebab beliau menamakan mazhab beliau “Dzahiri” adalah kerena beliau mengambil nash-nash dari Al-Quran dan As-Sunnah secara dzahir.

Imam Daud bin Ali-Asfahani Adz Dzahiri merupakan salah seorang dari murid imam Syafi’i, tetapi kemudian membentuk mazhab tersendiri yang dikenali dengan nama Adz-Dzahiri. Imam Daud bin Ali-Asfahani Adz Dzahiri berpegang kuat dengan firman Allah ta’ala :

فإن تنزعتم فى شىء فردوه إلى الله والرسول

“…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),..” (QS. An Nisa’ :59).

Bahkan Abu Sulaiman Daud bin Ali Al-Asfahani Adz-Dzahiri telah menjadikan ayat Allah ini sebagai asas utama mazhabnya ini, oleh karena itu beliau sangat berpegang teguh dengan dalil-dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah dan Ijma’ para ulama, ummah, dan beliau menolak beramal dengan hujah Al-Qiyas dan Al-Istihsan dan juga dalil-dalil syarak yang lain.

Asas Mazhab Zahiri ialah yang beramal dengan zahir Al-Quran dan Sunnah selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa yang dikehendaki daripadanya ialah bukan makna yang zahir. Jika tidak ada nas, berpindah kepada ijma’ dengan syarat hendaklah ia merupakan ijma’ dari semua ulama.

Mereka juga menerima ijma’ para sahabat. Jika tidak terdapat nas atau ijma’, mereka akan menggunakan istishab, yaitu Al-Ibahah Al-Asliyyah yaitu keharusan sediakala.

Beberapa pendapat madzhab Dzahiriyah berbeda dengan pendapat jumhur ulama’. salah satu perbedaanya adalah ketika menentukan hukuman kepada pelaku zina muhson.

Para pengikut madzhab dzahiri ini berpendapat bahwasanya wajib bagi pelaku zina muhson untuk dihukum cambuk dan rajam. Artinya pelaku zina muhson tersebut harus dicambuk sebanyak 100 kali, kemudian dirajam hingga meninggal dunia.

Diantara hujah mereka diantaranya adalah :

1. Berdalil dengan keumuman ayat

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ

“Perempuan yang berzina dengan laki-laki yang berzina, hendaklah kamu dera tiap-tiap satu dari ke­duanya itu dengan seratus kali deraan”. (QS. An Nur :2)

Kemudian ditambah hukuman rajam dari hadits nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.

2. Berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ubadah bin Shamit Ra

حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا مَنْصُورٌ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ حِطَّانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقَاشِيِّ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا عَنِّي

خُذُوا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ

“Zinanya seorang gadis dengan jejaka hukumannya adalah seratus kali cambuk & diasingkan selama satu tahun, dan zinanya seorang janda dengan seorang duda hukumannya adalah seratus kali cambuk dan rajam. [HR. Ahmad No. 21614].

3. Berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib ketika mencambuk dan kemudian merajam Syirohah. Ali berkata :

جلدتها بكتاب الله تعالى ورجمتها بسنة الرسول الله

“Aku mencambuknya berdasarkan hukum Allah dan merajamnya berdasarkan sunnah Rasulullah”

Dalil-dalil diatas merupakan dasar penetapan hukuman jilid kemudian dilanjutkan pada hukuman had rajam menurut dzahiriyah.

Pendapat Jumhur

Sedangkan jumhur ulama, diantaranya madzhab jumhur sahabat, tabi’in, dan fuqoha’ ansor berpendapat bahwasanya pelaku zina muhson hanya dihukum rajam, tanpa dijilid terlebih dahulu. Artinya pelaku zina tersebut tidak dijatuhi hukuman cambuk atas dirinya, akan tetapi langsung dijatuhkan hukuman rajam hingga meninggal dunia.

Adapun dalil-dalil jumhur ulama adalah sebagai berkut :

1. Hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wasallam yang diriwayatkan oleh Shohihaini. Pada hadits tersebut dijelaskan bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjilid pezina laki-laki dan mengasingkanya dan merajam pezina perempuan. Pezina laki-laki bikr, sedangkan pezina perempuan muhson.

2. Berdalil dengan perbuatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang merajam pelaku zina pada masanya, tanpa memberikan had jilid terlebih dahulu kepadanya. Dan tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwasanya pelaku zina muhson terlebih dahulu mendpatkan hukuman had jilid seratus kali.

3. Berdalil secara akal. Yang ditekankan uqubah dalam islam adalah efek jera, sehingga umat yang lain dapat mengambil pelajaran dan tidak mengulangi perbuatan tersebut. Hukuman had jilid seratus kali tidak akan bermanfaat jika adanya hukuman rajam. Hukuman jilid seratus kali sudah terdapat dalam hukuman rajam.

Dalam hal ini dianalogikan kepada orang yang mandi besar, apakah dia masih membutuhkan wudhu?. Begitu juga dengan had rajam, hukuman had jilid seratus kali sudah termasuk dalam hukuman rajam.

Bantahan Dali-dalil Dzahiriyah

Seperti telah disebutkan diatas, bahwasanya Dzahiriyah berpendapat harus dilakukan had jilid terlebih dahulu seratus kali, mereka berdalil dengan dalil-dalil yang mereka sebutkan.

Sedangkan jumhur ulama berbeda pendapat dengan Dzahiriyah dengan mengemukakan dalil-dalil mereka. Kemudian Jumhur juga menjawab dalil-dalil yang telah dikemukakan oleh Dzahiriyah. Adapun bantahan Jumhur ulama terhadap dalil-dalil Dzahiriyah adalah sebagai berikut :

1. Hadits Ubadah bin Shamit mansukh dengan perkataan nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dan perbuatanya ketika merajam pezina di masanya. Merajam pelaku zina muhson dan tanpa menjilidnya terlebih dahulu. Maka karena perbuatan Nabi ini menjadi dalil penghapus bagi Hadits Ubadah bin Shamit ra.

2. Adapun jawaban dari surat An nur ayat 2, menurut madzhab Dzahiri itu merupakan lafdhul ‘am, sedangkan menurut jumhur ulama, lafadz tersebut merupakan lafadz khas dengan dalil keluarnya budak dan wanita yang telah menikah dari ayat ini. had dari budak adalah dijilid 50 kali. Lafadz ini khas untuk bikraini.

Diantara ulama’ yang berpendapat bahwasanya ayat ini adalah hukuman bagi pezina bikraini, atau yang belum pernah menikah adalah imam Ibnu Katsir dan Al Alusiy dalam kitab tafsirnya (Tafsir Ruhul Ma’aniy Fi Tafsiril Qur’anul ‘Adhim Wa Sab’ul Matsaniy).

3. Sedangkan jawaban untuk perbuatan Ali bin Abi Ra ketika mencambuk Syirohah dan kemudian merajamnya kemudian berkata :

جلدتها بكتاب الله تعالى ورجمتها بسنة الرسول الله

Jumhur membantah, bahwasanya pendapat itu tidak benar diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam baik dari perkataanya maupun perbuatanya. Dan tidak lurus (menyelisihi  juga dengan ijma’ para sahabah.).

Jika memang benar hal itu, kemungkinanya adalah, bahwasanya diketahuinya pezina adalah muhson setelah dilakukan had jilid, kemudian datang bukti baru yang menyatakan bahwasanya pezina tersebut adalah muhson maka ditegakkan hukum rajam kepadanya.

Maka pendapat ini mirip dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud melalui Jabir bin Abdillah.

Dari beberapa jawaban Jumhur ulama atas dalil-dalil yang dikemukakan oleh Dzahiriyah, menjadi bukti bahwasanya pendapat dari Dzahiriyah sangatlah lemah dan pendapat Jumhur ulama yang rajih. Wallahu a’lam bis showab.

Penutup

Dari uraian-uraian diatas telah menjadi jelas, bahwasanya kuatnya pendapat jumhur ulama dan lemahnya pendapat madzhab Dzahiri. Yaitu pelaku zina muhson mendapatkan had rajam dan tidak dijilid terlebih dahulu. Wallahu a’lam bis showab.

Sumber Inspirasi

  • Al Qur’an Al karim.
  • Muhammad Aliy Ash Shobuniy, Tafsir Ayatul Ahkam Minal Qur’an, jilid 2.
  • Al Imam Abu Fida’ Ismail Bin ‘Umar Ibnu Katsir Al Quraysyi Ad Dimasyqi, Tafsir Al Qur’anul ‘Adhim, Maktabah Syamilah.
  • Syihabuddin Mahmud Bin Abdillah Al Husaini Al Alusiy, Tafsir Ruhul Ma’aniy Fi Tafsiril Qur’anul ‘Adhim Wa Sab’ul Matsaniy, Maktabah Syamilah.

Leave a Reply