Kisah Taubat Seorang Pemalas Karena Sepucuk Surat Imam Abu Hanifah

Pada artikel kali ini saya ingin menceritakan kisah hikmah, harapannya semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Kisah ini menceritakan tentang seorang yang malas mencari penghidupan. Malas menjemput jezeki yang telah ditetapkan Allah untuk makhluknya.

Kisah ini terjadi pada zaman Imam Abu Hanifah, salah satu imam 4 madzhab yang banyak menjadi rujukan kaum muslimin di seluruh dunia.

Cerita bermula ketika Imam Abu Hanifah melakukan perjalanan untuk keperluan dakwah. Ketika sampai di sebuah rumah dengan jendela yang masih terbuka, beliau mendengar sayup-sayup suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu.

“Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, sepertinya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku. Sejak dari tadi belum datang sesuap makanan pun di kerongkonganku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Oh, manakah hati yang mau berbelas kasihan yang sudi memberi curahan air walaupun sedikit.” Begitulah keluhan yang didengar olah Imam Abu Hanifah.

Mendengar keluhan itu hati Imam Abu hanifah merasa iba. Beliau lalu kembali kerumah untuk mengambil beberapa keping uang untuk diberikan kepada orang tersebut.

Ketika sampai di dekat rumah tadi, Imam Abu Hanifah melemparkan bungkusan yang sudah disiapkannya. Kemudian Imam Abu Hanifah melanjutkan perlajanannya untuk berdakwah.

Sepucuk Surat

kisah dakwah imam abu hanifah

source Image: www.huffingtonpost.com

Ketika Orang itu keluar rumah, ia terkejut mendapati ada bungkusan yang tergeletak tak jauh dari rumahnya. Ia lalu membuka bungkusan yang tidak tahu dari mana arahnya. Setelah dibuka ternyata isinya beberapa keping uang dan sepucuk kertas.

Kertas itu bertuliskan,”Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak perlu mengeluh akan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah. Cobalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa wahai kawan, akan tetapi berusahalah terus.”

Demikianlah surat yang ditulis Abu Hanifah kepada orang itu. Menariknya beliau tidak langsung mencela orang itu, tapi memberikan apa yang ia butuhkan disertai dengan menasihatinya agar berusaha mencari penghidupan. Benar-benar sebuah nasihat mulia yang keluar dari seorang ulama.

Beberapa hari kemudian Abu Hanifah melalui jalan itu lagi, Sesampainya di dekat rumah orang itu beliau berhenti sejenak. Tak disangka ternyata orang itu kembali mengeluh dengan suara keras,

“Ya Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sunggu jika Engkau tidak memberi, akan lebih sengsaralah hidupku.”

Mendengar keluhan itu lagi, Imam Abu Hanifah tidak melanjutkan perjalanan. Beliau lantas pulang lagi untuk mengambil beberapa keping uang seperti kemarin.

Ketika sampai di dekat rumah tadi Abu Hanifah melemparkan bungkusan yang telah disiapkannya, persis seperti kejadian beberapa hari lalu.

Rekomendasi bacaan: Panduan Lengkap Sholat Dhuha

Kisah Taubat

kisah taubat seseorang karena imam abu hanifah

Source image: manhajuna.com

Mendapat bungkusan yang kedua orang itu merasa girang bukan main. ia mengira doanya terkabul, hanya dengan berdoa dan mengeluh maka uang akan datang dengan sendirinya.

Sejenak dibukanya bungkusan tersebut yang isinya beberapa keping uang dan secarik kertas. Ia baca tulisan yang dalam kertas yang disertakan dalam bungkusan itu.

“Hai kawan, bukan begitu cara memohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Itu malas namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak Allah ridha melihat orang pemalas dan suka putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan.. jangan berbuat demikian. Jika anda ingin senang, anda harus bekerja dan berusaha karena kesenagan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak disuruh duduk diam dan tidak seharusnya demikian pula, akan tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan mengabulkan permohonan orang yang malas bekerja.”

Ia berhenti sejenak, menghela nafas kemudian meneruskan membaca.”Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Olah karena itu carilah pekerjaan yang halal untuk mencukupi kehidupanmu. Berikhtiarlah sebisa mungkin dengan tetap memohon pertolongan Allah. Insya-Allah anda akan mendapat pekerjaan selama anda tidak berputus asa. Carilah segera pekerjaan, saya doakan semoga anda berhasil.”

Ia merasa terpukul dengan isi surat itu. Ia berfikir sejenak, selama ini ia hanya berpangku tangan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tersadar akan kesalahannya selama ini, tidak mau berusaha mencari rezeki untuk menghidupi dirinya.

keesokan harinya ia keluar untuk mencari pekerjaan. Tentunya pekerjaan yang halal dan berkah. Sejak saat itu sikapnya berubah, ia tidak mau mengharapkan belas kasihan lagi. Berikhtiar dengan segala kemampuannya.

Kisah ini merupakan salah satu keutamaan yang dimilik Imam Abu Hanifah. Keutamaan dari ulama di masa Tabi’in yang fatwanya banyak dijadikan rujukan. Bahkan hanya dengan berdakwah melalui tulisan tanpa bertatap muka, dapat menjadi perantara taubat seseorang.

Semoga kita dapat mengambil ibrah (pelajaran) dari kisah ini. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berikhtiar. Tidak ada yang tidak mungkin bila kita mau bertawakal hanya kepada Dzat yang Maha Memberi Rezeki.

Leave a Reply