Menimang Masa Lalu, di Seribu Pintu Lawang Sewu

Lawang Sewu adalah gedung kuno peninggalan Belanda jaman dulu. Gedung ini dibangun tahun 1904. Awalnya gedung ini sebagai kantor pusat perusahaan kereta api (trem) Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS), berlantai tiga dengan gaya art deco (berciri ekslusif yang berkembang pada era 1850-1940 di benua Eropa) adalah karya arsitek berkebangsaan Belanda, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag.

Posisi gedung menghadap ke Taman Wilhelmina yang sekarang lebih dikenal sebagai komplek Tugu Muda. Di depan Lawang Sewu dulu melintas rel trem kota Semarang.

Sebagaimana namanya, Lawang Sewu mempunyai makna seribu pintu, lantaran bangunan ini terdapat banyak pintu, meski kenyataannya tidak sampai seribu. Demikian pula, di gedung ini terdapat banyak jendela berukuran tinggi dan lebar, terkesan jendela-jendera tersebut layaknya ukuran pintu.

Kemegahan dan kekunoan bangunan ini tampak sekali dari bentuk maupun nilai artistiknya. Memasuki gedung ini terasa berada pada suasana anggun dan berkesan, hal ini diperkuat dari dinding-dinding yang terdapat ornamin klasik gaya Eropa.

Pada masa penjajahan Jepang tahun 1942, ruang bawah tanah gedung ini yang sebelumnya sebagai saluran pembuangan air, kemudian dijadikan penjara bawah tanah sekaligus saluran pembuangan air. Gedung ini juga menjadi saksi pertempuran sengit antara rakyat Indonesia dengan tentara Jepang yang terkenal dengan sebutan Pertempuran Lima Hari di Semarang (14 Oktober 1945 – 19 Oktober 1945).

Untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut, beberapa tahun kemudian dibangun sebuah prasasti di halaman Taman Wilhelmina, yang sekarang dikenal sebagai Tugu Muda. Tugu Muda ini menggambarkan semangat berjuang dan patriotisme warga Semarang, khususnya para pemuda yang gigih, rela berkorban dengan semangat yang tinggi mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, gedung kuno ini digunakan sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu, pernah juga ditempati Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Sejak tahun 1992, Lawang Sewu dilingdungi sebagai cagar budaya.

Leave a Reply