Metode Berdakwah Kepada Orang Musyrik

 

Dakwah adalah ajakan atau seruan ajaran islam kepada individu atau kelompok untuk menuju ke jalan islam yang lurus dan meninggalkan segala kesesatan dan kejahiliyahan pada waktu itu. Da’i merupakan tujuan diutusnya Rasul kepada suatu kaum di muka bumi ini.

Banyak da’i yang tidak memahami metode dalam berdakwah sehingga mengalami kegagalan dalam proses dakwahnya, para da’i gagal mengambil hati masyarakat. Bahkan akibat yang lebih menakutkan lagi adalah diusir dari tempat dakwahnya.

Maka salah satu syarat yang harus diketahui oleh seorang da’i adalah metode yang digunakan dalam berdakwah. Karena salah satu kunci keberhasilan dalam berdakwah adalah metode yang bisa diterima masyarakat dan perubahan sikap dari para pendengar dakwahnya melalui metode tersebut. Diharapkan dengan bagusnya materi dan metode penyampaian dapat menghantarkan da’i kepada keberhasilan dalam berdakwah.

Pada kesempatan ini penulis ingin membahas metode dakwah kepada orang-orang musyrik. Lebih detailnya lagi orang-orang musyrik yang masih mungkin untuk diajak diskusi, masih bisa untuk diajak berfikir dengan benar. Bukan orang-orang musyrik yang kesyirikanya sudah mengakar dalam dagingnya, sehingga tidak dapat menerima kebenaran yang disampaikan da’i dengan metode apapun.

Selain itu, orang tersebut juga orang yang dituakan, terpandang dan tokoh dimasyarakat tersebut. Kemusyrikan yang biasa dilakukan oleh orang-orang disekitar orang tersebut adalah mempercayai jimat-jimat yang mereka miliki dapat memberikan manfaat dan mudharat.

Penulis mengambil point penting dalam mabhats tsani dalam buku Al Hikmah fi Ad Dakwah Ilallah Ta’ala oleh Said bin Ali bin Wahif Al-Qathani yaitu pada bab berdakwah kepada watsaniyyin (orang-orang yang mengambil sesembahan selain Allah).

Poin-poin Penting

Pada pembahasan ini, yaitu metode dalam berdakwah kepada orang-orang musyrik penulis mengambil poin-poin penting dalam berdakwah kepada watsaniyyin. Kemudian penulis tambahkan dimana poin tersebut belum dicantumkan dalam pembahasan berdakwah kepada wasaniyyin.

Adapun point-point tersebut adalah :

  • Hujah-hujah serta bukti Uluhiyah Allah ta’ala.
  • Lemahnya segala bentuk sesembahan bathil selain Allah ta’ala.
  • Memberikan permisalan yang terdapat hikmah di dalamnya.
  • Kesempurnaan secara mutlak hanya milik Allah semata, yang satu-satunya berhak untuk diibadahi.
  • Tauhid merupakan tujuan dakwah setiap rasul.
  • Berlebihan dalam meyanjung orang-orang shalih adalah sebab terjadinya syirik.
  • Syafa’at yang ditetapkan dan yang ditiadakan.
  • ‘Ilah yang haq yang menundukkan alam semesta untuk beribadah kepadaNya.
  • Hari kebangkitan setelah kematian.
  • Hukuman bagi orang yang menyekutukan Allah ta’ala.

Metode Dalam Berdakwah

Jika berbicara tentang orang-orang musyrik maka tidak bisa dipisahkan dari dakwahnya Nabi Muhammad saw, karena Nabi Muhammad saw diutus dan berdakwah di tengah-tengah kaum yang berbuat kesyrikan. Orang-orang musyrik di zaman sekarang berbeda perihal kesyirikan dengan orang-orang musyrik pada zaman dahulu.

Pada zaman sekarang kesyirikan bahkan dibungkus dengan hal-hal yang bersifat modern dan menjadi tren. Bahkan sebagian macam kesyirikan berasal dari sebuah pondok pesantren islam.

Jika pada zaman dahulu jimat-jimat masih berbentuk tulang ataupun hal-hal yang disembunyikan, pada sekarang ini jimat-jimat tersebut sengaja dinampakkan. Seperti berbentuk cincin, batu akik, kalung dan lain sebagainya. Bahkan para pemakai jimat-jimat tersebut merasakan kebanggaan.

Dalam berdakwah menghadapi suatu kaum yang memiliki ciri-ciri seperti ini membutuhkan kesabaran dan kemampuan yang lebih. Mereka mengerjakan shalat, puasa, (tetapi tidak rutin), bahkan puasa untuk memperoleh kekebalan diri. Mereka juga mempercayai bahwasanya jimat-jimat yang mereka pakai bisa memberikan manfaat dan mudharat bagi pemakainya.

Metode dalam berdakwah kepada orang-orang musyrik yang terbaik adalah metode Al qur’an, banyak pembahasan di dalam Al qur’an yang membahas permasalahan syirik.

Pertama kali dalam berdakwah kepada mereka, da’i harus mengetahui semua yang berkenaan dengan orang-orang tersebut, atau pemetaan wilayah terlebih dahulu. Setelah sudah tahu dengan segala sesuatu pada kampung tersebut, da’i bisa memulai langkah-langkah dalam dakwahnya.

Seorang da’i yang dipilih juga seorang da’i yang memiliki rekam jejak yang baik, nasab yang baik dan memiliki pengaruh sebagaimana Dihyah bin Khalifah pada masa lalu ataupun Mush’ab bin Umair yang diutus Rasulullah saw ke Madinah. Beliau berdua ra merupakan seorang bangsawan.

Tentunya seorang da’i tetap menghargai orang musyrik tersebut, tetap memberikan kepada dia sopan santunya, karena orang tersebut merupakan tokoh yang disegani masyarakat. Pendekatan bisa dilakukan dengan silaturrahim dan mengadakan kerjasama pada suatu pekerjaan.

Karena seorang tokoh, jika mereka dihargai maka merekapun akan menghargai kita. Berlemah-lembut terhadap mereka, berusaha sebisa mungkin menasihati dan melunakkan hati mereka, dan bersabar dalam menjalankan semua itu tanpa sikap tergesa-gesa ingin melihat hasil dan buah dari semua amalan tersebut.

Setelah beberapa saat, ketika seorang da’i memiliki kesempatan untuk menyampaikan tujuan utamanya, secara perlahan menyisipi obrolan ringan dengan menjelaskan tentang kebaikan, kesempurnaan dan keindahan agama Islam dari segi aqidah, ibadah dan muamalah (hakekat islam).

Tentunya hal ini bukan hanya sekali waktu, akan tetapi dalam beberapa kali pertemuan tatap muka dengan tokoh tersebut.

Setelah pendekatan pada tahap pertama selesai, dan da’i telah menjelaskan tentang kebaikan, kesempurnaan, dan keindahan agama islam, tentang surga dan neraka, maka seorang da’i menambah bobot obrolanya. Menjelaskan konsekuensi sebagai seorang muslim dan segala sesuatu tentang islam yang mungkin dilakukan oleh orang tersebut.

Pada tahap tersebut, seorang da’i bisa menambahkan pengetahuan kepada orang tersebut, menyebutkan bukti-bukti kebenaran ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar siapa saja yang menghendaki kebenaran dan jujur (terhadap kebenaran itu) akan mendapatkan petunjuk, dapat menegakkan hujjah atas para penentangnya.

Berlanjut kepada tahap setelahnya, Mematahkan syubhat orang-orang musyrik terhadap agama ini dan membantah semua hal yang mereka jadikan sebagai hujjah atau segala sesuatu yang mereka gunakan untuk mendebat kaum muslimin.

Al qur’an telah menunjukkan bukti yang paling jelas dan hujjah yang paling kuat dan cukup untuk menunjukkan kebenaran dan menumpas kebatilan serta mengalahkan argumen orang-orang musyrik. Hal ini terdapat dalam kitab Al Hikmah fi Ad Dakwah Ilallah.

Diantara poin-poin pada pembahasan dakwah kepada watsaniyyin yaitu :

1. Seorang da’i menyampaikan hujah-hujah serta bukti Uluhiyah Allah ta’ala yang terdapat dalam Al qur’an tanpa terkecuali. Diantara ayat-ayat Allah ta’ala yang menjelaskan tentang Uluhiyah-Nya adalah Al Anbiya : 21-23, Al Mukminun : 92, dan Al Mulk : 3.

2. Seorang da’i menyampaikan lemahnya segala bentuk sesembahan bathil selain Allah ta’ala. Ditinjau dari segala sisi, maka sesembahan bathil selain Allah ta’ala sangatlah lemah. Bahkan tidak ada benarnya sama sekali. Lantas bagaimana kita menyembah mereka dengan keadaan lemahnya mereka.

Diantara bantahan Allah ta’ala dalam Al qur’an yaitu : surat Al Maidah : 76, Al A’raf : 191-198, Al Isra’ : 57, Saba : 22-23.

3. Seorang da’i memberikan permisalan yang terdapat hikmah di dalamnya. Memberikan permisalan yang bijaksana dan dapat dicerna secara akal. Seperti pada surat Al Hajj ayat 73-74, Allah ta’ala memberikan permisalan bahwasanya sesembahan selain Allah tidak akan mampu menciptakan sampai hanya seekor lalat pun.

Kemudian dalam ayat yang lain, Al Ankabut : 41-43, Allah Ta’ala memberikan permisalan pelaku syirik seperti rumah laba-laba, karena rumah laba-laba merupakan rumah yang lemah. Dan masih banyak permisalan yang lainya.

4. Seorang da’i menyampaikan ayat yang berkenaan dengan mengenai kesempurnaan secara mutlak hanya milik Allah semata, yang satu-satunya berhak untuk diibadahi.

Bahwasanya hanya Allah lah yang menundukkah segala sesuatu dengan kekuasa-Nya, Dialah Ilah dengan tangan-Nya memberikan manfaat dan mudharat. Maka sesembahan selain Allah ta’ala adalah bathil dan tidak sah untuk diibadahi.

Diantaranya adalah surat Maryam : 94, Al Baqarah : 255, Ali Imron : 83, Yunus : 107 dan ayat-ayat yang lain.

5. Seorang da’i menyampaikan ayat yang berkenaan dengan‘Ilah yang haq yang menundukkan alam semesta untuk beribadah kepadaNya. Keteraturan perjalanan benda-benda langit. Hikmah qauliyah dalam hal ini yaitu memalingkan pandangan dan hati-hati mereka kepada nikmat Allah ta’ala yang sangat besar.

Diantara ayat-ayat tentang hal ini adalah surat An Nakhl : 53, Al Baqarah : 59, Lukman : 20, Jatsiyah : 13.

6. Seorang da’i menyampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan hari kebangkitan setelah kematian. Orang-orang musrik Qurasy mengingkari akan dikembalikanya jasad setelah kematianya. Seorang da’i menjelaskan akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah diperbuat sewaktu hidup di dunia.

Diantara ayat-ayat tersebut adalah Al Mukminun : 115, Ruum :27, Maryam : 66-67, Al Ahqaf : 33, dan ayat-ayat yang lain.

7. Hukuman bagi orang yang menyekutukan Allah Ta’ala, baik kisah-kisah umat yang diadzab pada masa lalu ataupun ancaman dari nash Al qur’an dan Hadits. Seperti kisah nabi Ibrahim as dan raja Namrud.

Rasulullah saw Selama 3 tahun di Makkah membangun kaum muslim dengan membangun pola pikir yang islami dan jiwa yang islami, maka muncullah sekelompok orang yang memiliki kepribadian islam yang siap berdakwah di tengah-tengah masyarakat jahiliyah pada saat itu.

Maka hal inipun menuntut seorang da’i agar bersabar dalam menyampaikan materinya dalam waktu yang cukup lama.

Setelah tahap tersebut telah selesai, maka berlanjut ke tahapan setelahnya, yaitu memberikan peringatan kepada mereka terhadap apa-apa yang telah Allah siapkan untuk orang-orang kafir, orang musyrik, berupa hukuman-hukuman di dunia dan akhirat.

Hal ini bukan dilakukan hanya dalam forum resmi, akan tetapi bisa dilakukan pada waktu-waktu obrolan biasa, ataupun tatkala bersilaturrahim.

Pada tahap setelahnya da’i dapat menyampaikan dengan memadukan antara metode targhib (pemberian motivasi) dan tarhib (peringatan dengan menyampaikan ancaman) dengan cara menyebutkan apa yang akan mereka peroleh jika mereka meninggalkan kesyirikan dan taubat nasuha serta masuk dalam islam secara kaffah. Seperti faidah yang besar, hasil yang bermanfaat, dan kebaikan yang terus menerus di dunia dan akhirat.

Dan menyebutkan apa yang akan mereka peroleh jika mereka tetap berada dalam kesyirikan dan meninggal pada kesyirikan tersebut, berupa: keburukan-keburukan yang banyak, bahaya-bahaya yang mengkhawatirkan dan kerusakan yang berkesinambungan di dunia dan akhirat ditambah dengan ancaman neraka jahannam jika tidak bertaubat.

Di antara contoh penerapan metode ini adalah surat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada Raja Romawi, Heraklius. Atau bisa dilihat dari kisah Rib’i bin Amir ra ketika beliau diminta untuk menemui Rustum pada perang Qadisiyah. Wallahu a’lam bis shawab.

Demikian metode dakwah kepada orang-orang musyrik yang dapat penulis haturkan. Untuk itu marilah kita selalu berdoa kepada Allah ta’la agar Allah menganugerahi kita keistiqamahan di jalan dakwah dan menulis setiap pahala serta membalas dengan balasan di dunia dan akhirat.

Leave a Reply