Kronologi Terjadinya Perang Jamal Antara Siti Aisyah dan Ali bin Abi Thalib

Perang Jamal – Masa-masa fitnah pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan ra hingga peristiwa pembunuhannya sangat berdampak kepada khalifah setelahnya, yaituAli bin Abi Thalib ra sepupu Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam.

Ali bin Abi Thalib ra yang menggantikan Utsman bin Affan ra sebagai khalifah benar-benar dihadapkan pada masalah yang besar. Selain harus mengurusi urusan kenegaraan, khalifahAli bin Abi Thalib ra juga dituntut untuk mengqishas para pembunuh Utsman bin Affan ra.

Ali bin Abi Thalib ra berpendapat terlebih dahulu mengkondisikan keadaan negara pada waktu itu, sedangkan kelompok yang lain menuntut agarAli bin Abi Thalib ra segera menuntaskan qishas pembunuh Utsman ra. Ditambah lagi dengan provokasi dari kaum saba’iyah menambah rumit permasalahan pada waktu itu.

Masa-masa fitnah terus berlanjut, provokasi dari kaum saba’iyahpun menjadikan suasana bertambah rumit, sehingga beberapa waktu setelahnya terjadi perang saudara antar umat islam, yaitu perang Jamal.

Pada perang ini pasukan Ali bin Abi Thalib ra dan pasukan Ummul Mukminin Aisyah rara bertempur karena provokasi kaum saba’iyah. Pada perang ini juga dua sahabat mulia, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah ra mendapatkan kesyahidanya.

Banyak orang yang salah dalam menyikapi peperangan ini. Ada yang menyalahkanAli bin Abi Thalib ra, ada juga yang sebaliknya, menyalahkan Ummul Mukminin Aisyah rara. Bahkan pada tingkat yang berlebihan sampai mengkafirkan Aisyah, Zubair, dan Thalhah ra.

Pada kesempatan ini penulis ingin membahas, bagaimana sebenarnya kronologi perang jamal terjadi. Sehingga, setelah mengetahui sejarah yang sebenarnya mengenai perang jamal kita dapat menentukan sikap kita dan mengambil pelajaran dari perang tersebut. Semoga dengan adanya tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis pribadi dan untuk semua pembaca pada umumnya.

Sebab Peperangan Terjadi dan Kondisi-kondisi Sebelum Peperangan

Fitnah terbunuhnya Utsman bin Affan ra menjadi sebab munculnya fitnah-fitnah yang lain pada kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ra. Fitnah-fitnah tersebut berasal dari provokasi yang dilakukan oleh Abdullah bin Saba’. Kaum Saba’iyah menampakkan keislaman dengan menggunakan faham taqiyah dan bertujuan untuk menghancurkan islam.

Abdullah bin Saba’ yang dijukluki dengan Ibnu Sauda’ terinspirasi dari tabiat seorang yahudi yang dengki. Dia menyusup ke tengah-tengah masyarakat islam, melakukan fitnah, menanam benih-benih perpecahan, menghancurkan keutuhan dan kesatuan masyarakat islam.

Selain provokasi dari Abdullah bin saba’, sebab terjadinya perang jamal juga disebabkan perbedaan para sahabat dalam mengambil sikap untuk melakukan qishas dari terbunuhnya Utsman. Sebagai contoh sikap dari Sayyidah Aisyah ra Ummul Mukminin, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallhu ‘anhum, mereka mendesak kepada khalifahAli bin Abi Thalib ra agar segera mengqishas para pembunuh Utsman.

Akan tetapi Ali bin Abi Thalib ra berpendapat menangguhkan pelaksanaan qishas sampai kondisi menjadi stabil, kemudian baru melaksanakan qishas.

Thalhah bin Ubaidillah ra, Zubair bin Awwam, dan ‘Aisyah ra Radhiyallahu ‘anhum berangkat menuju Bashrah, sebenarnya tujuan utama kedatanganya adalah untuk mendamaikan. Mereka pun berangkat menuju Bashrah, ketika rombongan mendekati Bashrah ‘ Aisyah ra menulis surat kepada Al Ahnaf bin Qais dan orang-orang disana mengabarkan bahwa ia sudah sampai di Bashrah.

Utsman bin Hunaif mengutus Imran bin Hushain dan Abul Aswad Ad Duali untuk menemui ‘Aisyah ra guna menanyakan maksud kedatangannya. Ketika kedua utusan itu datang menemui ‘Aisyah ra, keduanya mengucapkan salam dan menanyakan maksud kedatangan beliau.

‘Aisyah ra menyampaikan kepada kedua utusan itu bahwa maksud kedatangannya adalah hendak menuntut atas tertumpahnya darah Utsman ra, karena beliau dibunuh secara zhalim pada bulan Haram di negeri Haram. Kemudian membacakan firman Allah ta’ala surat An Nisa’ :114.

Begitu juga dengan jawaban Thalhah dan Zubair ra ketika mereka berdua ditanya. Utsman bin Hunaif sepakat untuk bertahan sampai datangnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Pada saat itu terjadi perselisihan antara Utsman bin Hanif dan Pasukan Aisyah ra. Hukaim bin Jabalah yang berada dalam pasukan Utsman bin Hunaif yang  memicu pecahnya perang. Sementara pasukan Ummul Mukminin Aisyah ra menahan diri dan enggan meladeninya. Lalu Hukaim menyerang mereka.

Kedua pasukan saling berperang di mulut jalan. ‘Aisyah ra menyuruh pasukannya agar menghindar ke kanan hingga mereka sampai di perkuburan Bani Mazin. Malam memisahkan antara kedua pasukan.

Pada hari kedua, masing-masing pasukan keluar dengan tujuan berperang. Mereka pun terlibat dalam pertempuran yang sengit sampai menjelang sore hari. Orang-orang dari pasukan Utsman bin Hunaif banyak yang tewas, dan banyak pula orang yang cedera dan luka-luka dari kedua belah pihak.

Setelah letih berperang kedua pasukan pun setuju berdamai. Hukaim bin Jabalah adalah adalah salah seorang yang terlibat langsung dalam pembunuhan Utsman ra. Mereka keluar dan berperang. Salah seorang lelaki menebas kaki Hukaim bin Jabalah hingga putus. Hukaim merangkak lalu mengambil kakinya dan memukulkannya kepada lelaki yang telah menebasnya hingga lelaki itu terbunuh.

Hukaim tewas dalam pertempuran tersebut bersama tujuh puluh orang yang membunuh Utsman ra. Dan para pendukung mereka. Peristiwa ini disebut juga dengan perang Jamal sugra.

Ketika itu juga Ali bin Abi Thalib ra sedang bersiap-siap menuju Syam. Ketika sampai berita tentang maksud Thalhah dan Az Zubair ra, beliau bangkit dan berkhutbah di hadapan manusia mengajak mereka keluar ke Iraq. Tujuan Ali bin Abi Thalib ra hanya menginginkan kebaikan dan perdamaian. Sebagian besar penduduk Madinah keberatan menyambut ajakan beliau, adapun sebagian lainnya menyambutnya.

Ketika pasukan sudah sampai di Dzi Qar Utsman bin Hunaif, wali Bashrah, datang menemui beliau dan melaporkan kondisi di sana. Ali ra berkata, “Engkau telah memperoleh kebaikan dan pahala”.

Disisi lain Muhammad bin Abu Bakar, Muhammad bin ja’far menemui Abu Musa Al Asy’ari ra agar bergabung bersamaAli bin Abi Thalib ra, akan tetapi gagal. Kemudian diganti oleh Abdullah bin Abbas ra dan Al Asytar.

Setelah kedua orang tersebut mendengar jawaban dari Abu Musa Al Asy’ari ra maka Abdullah bin Abbas ra dan Al Asytar kembali kepada Ali dan menceritakan apa yang telah terjadi. Lalu Ali ra mengutus Al Hasan dan Ammar bin Yasir ra.

Orang-orang pun menyambut seruannya, hasilnya berangkatlah sembilan ribu personil bersama Al Hasan di darat maupun di sungai Tigris. Ada yang mengatakan jumlah personil yang berangkat bersama Al Hasan mencapai dua belas ribu orang. Mereka berangkat menemui Amirul Mukminin yang menyambut kedatangan mereka di Dzi Qar.

Ali ra mengirim Al Qa’qa’ ra sebagai utusan untuk menemui Thalhah dan Az Zubair ra di Bashrah, mengajak mereka berdua untuk berdamai dan bersatu serta memperingatkan bahaya berpecah belah dan berselisih. Maka Al Qa’qa pun pergi menemui Aisyah ra, kemudian Thalhah dan Az Zubair radhiyallahu ‘anhum.

Maka semuanya pun sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Al Qa’qa ra, yaitu berdamai dan bersatu serta menunggu kondisi stabil kemudian barulah melaksanakan qishas terhadap pembunuh-pembunuh Utsman bin Affan ra.

Di pihak lain, yaitu para pemberontak pembunuh Utsman ra khawatir jika perdamain tersebut akan terlaksana. Merekapun berusaha untuk merusaknya. Maka berkumpullah sejumlah tokohnya, diantaranya Al Asytar an-Nakhai, Syuraih bin Aufa, Abdullah bin Saba yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sauda’, Salim bin Tsa’labah, Alba’ bin al-Haitsam dan Iain-lain bersama dua ribu lima ratus pendukung mereka. Mereka berkumpul dan merencanakan makarnya, masing-masing mereka memberikan usulan dan pendapat.

Kesepakatan dari kumpulnya mereka yaitu usulan yang disampaikan oleh Ibnu Sauda’, yaitu tidak membiarkan mereka (kelompok Ali dan Aisyah, Thalhah dan Zubair ra) berdamai dan menyalakan api peperangan diantara mereka.

Para pembunuh Utsman ra. melalui malam itu dengan seburuk-buruk keadaan. Mereka berunding dan sepakat untuk mengobarkan peperangan pada pagi buta esok hari. Mereka bangun sebelum terbit fajar, jumlah mereka sekitar dua ribu orang.

Masing-masing kelompok bergabung bersama pasukannya lalu menyerang mereka dengan pedang. Setiap golongan bergegas menuju kaumnya untuk melindungi mereka. Orang-orang bangun dari tidurnya dan langsung mengambil senjata.

Mereka berkata, “Penduduk Kufah menyerbu kami pada malam hari, mereka mengkhianati kita!” Mereka mengira bahwasanya yang menyerang mereka itu berasal dari pasukan Ali ra. Ali ra mendengar kerbutan tersebut, kemudian beliau berkata, “Ada apa gerangan dengan mereka?” Mereka menjawab, “Penduduk Bashrah menyerbu kami!”

Maka kedua belah pihak mengambil senjata masing-masing, mengenakan baju perang dan mengendarai kuda-kuda. Tidak ada seorang pun  yang menyadari apa sebenarnya yang telah terjadi. Akhirnya sejarah harus mencatat tragedi kelam umat islam.  Wallahu a’lam bis showab.

Jalannya Peperangan

Seperti telah disebutkan diatas, kaum saba’iyah dan para pemberontak pembunuh Utsman ra melakukan penyerangan terhadap dua pasukan. Dengan adanya serangan pada pagi buta tersebut maka peperangan pun tidak bisa dihindarkan lagi.

Ibnu katsir dalam Al bdayah wan Nihayah menyebutkan jumlah pasukanAli bin Abi Thalib ra berjumlah dua puluh ribu orang, sedangkan jumlah dari pasukan Aisyah ra adalah tiga puluh ribu pasukan. Perang ini dinamakan “perang jamal” karena pada waktu itu Aisyah ra mengendarai onta.

Sebenarnya ketika berkecamuknya perang banyak cara digunakan agar kedua pasukan menghentikan peperangan dan berdamai. Salah satunya yang dilakuhkan oleh Aisyah ra, beliau mengangkat mushaf dan mengajak manusia untuk menghentikan peperangan.

Akan tetapi pengaruh saba’iyah dan faktor lain menyebabkan peperangan terus berlanjut.  Perang semakin berkobar, setelah tombak-tombak patah, pedang-pedang tumpul dan rampah, satu sama lain saling mendekat dan berbaku hantam.

Kaum saba’iyah berusaha mencapai unta Aisyah ra, dan hendak membunuh Ummul Mukminin, akan tetapi selalu gagal. Dengan pengalaman di bidang militer yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib ra, beliau ra berpendapat bahwasanya perang akan berhenti jika Aisyah ra dikeluarkan dari tandunya dan dari medan peperangan.

Cara yang dilakukan adalah memukul kaki unta dengan pedang, dan kemudian menyembelihnya. Kemudian seorang lelaki menebas kaki unta lalu membunuhnya, akhirnya unta itu roboh di atas tanah. Tujuannya agar Ummul Mukminin tidak terkena lemparan panah, karena saat itu ia menjadi sasaran tembak oleh para pemanah dan agar beliau dapat keluar dari medan pertempuran yang telah menelan korban sangat banyak.

Benar, dengan berhasil dikeluarkanya Aisyah ra dari medan pertempuran membuat peperangan pun sedikit reda, hingga pada akhirnya peperangan pun  berakhir. Dan kemenangan berada di pihak Ali bin Abi Thalib ra. Pada peperangan itu Ali bin Abi Thalib ra menginstruksikan kepada pasukanya agar tidak mengejar pasukan lawan yang lari, tidak membunuh orang yang terluka dan tidak masuk ke dalam rumah-rumah.

Setelah peperangan ini usai, Ali bin Abi Thalib ra memerintahkan Muhammad bin Abu Bakar dan Amar bin Yasir ra untuk mendirikan kemah bagi Aisyah ra, setelah itu banyak diantara pasukan Ali yang menjenguk Aisyah rara.

Pada akhir peperangan itu, Ali bin Abi Thalib ra mengumpulkan seluruh harta rampasan, dan mempersilahkan mereka untuk mengambil kembali harta mereka. Dalam peperangan ini jumlah korban meninggal dunia berjumlah sepuluh ribu orang, lima ribu dari pihak Ali dan lima ribu dari pihak Aisyah ra.

Perang Ammar bin Yasir ra Dalam Perang Ini

Ammar bin Yasir  ra adalah anak dari Sumayyah binti Khayyat dan Yasir bin Amir ra yang merupakan salah satu dari orang yang terawal dalam memeluk agama Islam. Keluarga Ammar bin Yasir berasal dari Tihanah, suatu daerah di Yaman yang kemudian datang ke Mekkah untuk mencari saudaranya yang hilang dan kemudian menetap di sana.

Setelah memeluk islam Ammar bin Yasir bin Amir ra selalu disiksa untuk kembali kepada kekafiran oleh Abu Jahal bin Hisyam dan kawan-kawanya dari golongan pembesar kafir Qurasy. Kedua orang tua Ammar menemui kesyahidannya ketika dahsyatnya siksaan orang-orang qurays pada waktu itu.

Ammar bin Yasir ra sendiri selamat, Ammar ra mengucapkan kalimat kekafiran akan tetapi hatinya tetap teguh di dalam iman dan islam karena paksaan yang bisa menyebabkan kematiannya. Ammar bin Yasir merupakan salah satu orang yang dikasihi oleh Rasulullah saw. Beliau selalu ikut dalam peperangan di masa Rasulullah saw maupun setelah wafatnya beliau saw.

Ammar bin Yasir ra adalah orang yang selalu setia bersama Amirul MukmininAli bin Abi Thalib ra setelah wafatnya Utsman ra. Peran Ammar bin Yasir ra dalam peperangan ini sangat penting.

Selain memimpin pasukan sebelah kiri, Ammar bin yasir ra adalah orang yang meyakinkan Abu Musa Al Asy’ari saat meminta bala bantuan. Sebelumnya Abdullah bin Abbas ra dan Al Asytar gagal meyakinkanya. Dengan perantara Ammar bin Yasir dan Al Hasan dapat meyakinkan Abu Musa Al Asy’ari ra, maka keluarlah bersama keduanya 9 ribu pasukan. Bahkan ada yang mengatakan 12 ribu pasukan.

Kemudian peran Ammar bin Yasir ra yang lainya adalah alasan utama Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah ra meninggalkan medan pertempuran. Mereka berdua melihat Ammar bin Yasir berperang dipihak Ali bin Abi Thalib ra, kemudian teringat dengan sabda Rasulullah saw mengenai akan dibunuhnya Ammar bin Yasir ra oleh pembangkang. Hadits nabi Muhammad saw :

سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول لعمار ويحك يا بن سمية تقتلك الفئة الباغية 

Dengan hadirnya Ammar bin Yasir ra dalam peperangan ini menambah semangat tersendiri bagi pasukan Ali bin Abi Thalib ra, mereka merasa dalam posisi benar berdasarkan hadits tersebut. Begitu juga dalam perang Shiffin, Ammar bin Yasir ra dalam usia 93 tahun masih memimpin perang dan menjadi seorang motivator hingga akhirnya syahid dalam medan perang tersebut.

Dan itu merupakan bukti terjadinya apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw bahwasanya Ammar bin Yasir ra akan dibunuh oleh kaum pembangkang. Menurut sebagian besar ulama’, terbunuhnya Ammar bin Yasir ra merupakan dalil bahwasanyaAli bin Abi Thalib ra berada dipihak yang benar. Sampai kepada Abdullah bin Umar ra yang menyesal karena tidak ikut berperang dipihakAli bin Abi Thalib ra.

Sekilas Tentang Thalhah bin Ubaidillah ra dan Kesyahidannya

Beliau adalah Abu Muhammad Thalhah bin Ubaidillah ra bin Utsman bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib Al Quraisyi At Taymy.

Nasabnya bertemu dengan Nabi Muhammad pada Murrah bin Ka’ab dan bertemu dengan Abu Bakar ra pada Taym bin Murrah. Ibunya adalah seorang shohabiyah yaitu Shaba’ah binti Al Hadhramy.

Sama seperti Zubair ra, beliau merupakan salah satu orang yang mendapat jaminan surga dan beliau juga masuk islam melalui perantara Abu Bakar Ash Shidiq ra. Beliau tidak termasuk dalam perang Badar karena mendapat tugas khusus dari Rasulullah saw bersama Said bin Zaid ra, akan tetapi Rasulullah saw tetap memasukkanya ke dalam Ahlu Badr.

Adapun pada perang Uhud, Thalhah ra memperlihatkan sifat heroiknya, beliau menjadi tameng bagi Rasulullah saw.

Thalhah bin Ubaidillah ra berperang bersama Aisyah ra dan Zubair. Beliau mendapatkan kesyahidannya dalam peperangan ini. Mengenai syahidnya Thalhah ra, ada perbedaan pendapat dikalangan muarikh mengenai pembunuhnya dan cerita terbunuhnya.

Adapun peristiwa terbunuhnya Thalhah adalah ketika beliau berada di medan pertempuran terkena panah tak bertuan yang tidak diketahui dari mana asalnya mengenai kakinya hingga tembus sampai mengenai kudanya. Ada yang berpendapat bahwasanya Ali, Thalhah dan Zubair telah berdialog, dan hasil dari dialog tersebut, Thalhah dan Zubair ra memutuskan untuk meninggalkan medan pertempuran.

Ketika meninggalkan medan pertempuran Thalhah terkena serangan panah dan meninggal akibat serangan tersebut. Ada juga yang berpendapat anak panah tersebut beracun. Mengenai pembunuh Thalhah maka tidak diketahui, ada yang berpendapat dari pihak Ali ada juga yang berpendapat dari pihaknya sendiri.

Ada juga salah satu muarikh mencamtumkan pembunuh Thalhah ra adalah Marwan bin Hakam, akan tetapi pendapat ini banyak dikritik oleh muarikh lainya dan dinyatakan lemah. Adapun keterangan lain, ada yang menjelaskan bahwasanya yang melakuhkan pembunuhan terhadap Thalhah bin Ubaidillah ra adalah kaum Syi’ah, karena kebencianya kepada Thalhah bin Ubaidillah ra. Wallahu a’lam bis showab.

Sekilas Tentang Zubair bin Awwam ra dan Kesyahidannya

Zubair bin Awwam memiliki nama lengkap Abu Abdillah bin Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushi bin Kilab Al Quraisyi Al Asad. Beliau adalah salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Beliau masuk islam pada usia 16 tahun atas ajakan Abu Bakar Ash Shidiq ra.

Zubair bin Awwam tidak pernah tertinggal dalam peperangan setelah masuk islam. Beliau juga termasuk orang-orang yang mendapat siksaan akibat memeluk agama islam. Di dalam hadits shohih muslim no 2414, disebutkan oleh Rasulullah saw bahwasanya zubair bin Awwam adalah Hawari Rasulullah saw. Dan masih banyak lagi keutamaan dari Abdullah bin Zubair.

Syahidnya Zubair bin Awwam ra tatkala perang Jamal terjadi, beliau bersama pasukan Aisyah ra. Sebenarnya Zubair ra telah meninggalkan medan peperangan. Para muarikh berbeda pendapat dalam mengemukakan perihal perginya Zubair ra dari medan pertempuran.

Ada yang berpendapat bahwasanya Zubair ra meninggalkan medan pertempuran setelah berdialog dengan Ali bin Abi Thalib ra. Ali bin Abi Thalib ra mengingatkan sebuah hadits, Ali ra berkata kepadanya: “Apakah engkau ingat bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Engkau akan memerangi Ali sedangkan engkau dalam posisi mendzaliminya.”

Maka, pada hari itu Zubair ra kembali dan tidak ikut berperang. Ada juga yang berpendapat alasan Zubair meninggalkan medan pertempuran karena Ammar bin Yasir. Seperti telah kita ketahui, Ammar bin Yasir berperang dipihak Ali, Maka Zubair merasa khawatir jika Ammar terbunuh, beliau teringat dengan hadits Rasulullah saw “Engkau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang”.

Setelah beliau meninggalkan medan pertempuran beliau dibuntuti oleh Amru bin Jurmuz, Fadhalah bin Habis, dan Nafii’. Menurut pendapat yang paling masyhur, Amru bin Jurmuz menemukannya di suatu lembah, sedangkan Zubair ra sedang tertidur pada tengah hari, kemudian Amru bin Jurmuz menyerang dan membunuhnya.

Setelah pertempuran usai, dengan bangganya Amru bin Jurmuz datang menemui Ali ra sambil membawa pedang milik Zubair ra, lalu berkata: “Aku telah membunuh Zubair, aku telah membunuh Zubair.”

Mendengar hal itu, Ali berkata: “Pedang ini telah begitu lama menghilangkan duka dan kesusahan Rasulullah saw. Berikanlah berita gembira kepada orang yang telah membunuh Ibnu Shafiyyah (yaitu Zubair) bahwa ia akan masuk Neraka.” Setelah itu Ali tidak mengijinkan Ibnu Jurmuz untuk menemuinya.

Cara menyikapi Perang Ini

Sebagai seorang muslim kita harus menyikapi para sahabat yang terlibat dalam peperangan ini dengan adil. Kita tidak boleh terlibat kedalam kubu ekstrim yang mengkafirkan kedua belah pihak. Ataupun menyalahkan sepenuhnya kepada salah satu pihak.

Kita juga tidak boleh terjebak ke dalam kelompok yang mengkafirkan pihak yang berada di pihak Aisyah ra, Zubair dan Thalhah ra. Akan tetapi kita harus menundukkan masalah terlebih dahulu dan menentukan sikap sebagaimana ulama -ulama terdahulu menyikapi perang tersebut.

Pertama

Kita melihat bahwasanya Ali, Aisyah, Zubair, dan Thalhah ra adalah para Mujtahid, jika mereka berijtihad dan benar, maka mendapatkan dua pahala. Dan jika salah maka mendapatkan satu pahala. Sedangkan Ijtihad tidak dapat digugurkan dengan ijtihad yang lain.

Kemudian Ali, Thalhah dan Zubair ra merupakan 10 orang yang dijamin masuk surga. Maka tingkat keshalehan dan kebaikan mereka tidak diragukan lagi.

Kedua

Masa itu adalah masa-masa puncaknya fitnah, sehingga keadaan sangat kacau. Tidak  ada yang selamat dari fitnah itu kecuali sebagian sahabat yang ber’tizal dari daerah tersebut. Provokasi yang dilakukan oleh kaum Saba’iyah yang menghancurkan kesatuan kaum muslimin.

Ketiga

Para sahabat adalah manusia biasa yang mendapatkan keutamaan, mereka tidak ma’sum sehingga masih mungkin melakuhkan kesalahan. Akan tetapi diharamkan bagi kita mencela para sahabat. Bahkan seandainya kita menginfakkan emas sebesar gunung uhud, maka kita tidak akan menyamai satu mud infak para sahabat bahkan tidak sampai setengahnya.

Keempat

Sebagaimana Ali dan Aisyah rara mendoakan semoga Allah mengampuni keduanya, dan mendoakan pula kepada pasukan kedua kelompok rahmat dan kebaikan bagi mereka yang terbunuh pada peperangan ini.

Kelima

Kita bisa mengambil pelajaran dari menyesalnya Aisyah radan Ali ra, mereka menyesal peperangan ini harus terjadi. Hal ini menunjukkan bahwasanya mereka tidak menginginkan peperangan.

Keenam

Hubungan antara Aisyah ra dan Ali bin Abi Thalib ra sebelum ataupun sesudah perang tidak terjadi permusuhan diantara keduanya. Bahkan sikap yang ditunjukkan kedua belah pihak menjadi bukti dustanya orang-orang yang mengatakan bahwasanya Aisyah ra masih merasa dendam akibat haditsul ifki pada zaman Rasulullah saw masih hidup.

Dari semua uraian yang disampaikan diatas, menunjukkan bahwasanya kita tidak pantas untuk memvonis para sahabat yang terlibat dalam perang tersebut dengan berbagai macam tuduhan. Sebenarnya yang mereka inginkan hanyalah kebaikan dan perdamaian bukanlah peperangan.

Hendaknya kita selalu waspada kepada makar-makar musuh yang bertujuan menghancurkan islam baik dari golongan yang mengaku sebagai islam, ataupun dari golongan kafir sendiri. Semoga Allah ta’ala selalu membimbing kita ke jalan yang benar.

Kesimpulan dan Pelajaran yang Bisa Diambil

Dari pemaparan diatas, setidaknya dapat disimpulkan mengenai proses terjadinya perang Jamal. Sebenarnya tujuan utama kedatangan Aisyah, Zubair, dan Thalhah ra adalah bukan untuk berperang. Itu menjadi catatan utama.

Pada pemaparan setelahnya, jelas sekali memperlihatkan bahwasanya perang tersebut terjadi karena pasukan Saba’iyah yang tidak puas dengan keputusan Aisyah, Thalhah dan Zubair ra berdamai dengan Ali bin Abi Thalib ra dan bersepakat dengan pendapat Ali mengenai qishas terhadap pembunuh Utsman, mereka menyerang kedua kubu, sehingga pasukan Ali dan Aisyah ra mengira telah diserang.

Padahal kedua belah pihak telah berdamai dan memutuskan setuju dengan pendapat Ali bin Abi Thalib ra. Maka yang paling bertanggung jawab mengenai perang tersebut adalah kelompok Saba’iyah yang telah menyulut api peperangan. Alangkah buruknya kelakuan mereka.

Begitu juga dengan Thalhah dan Zubair ra, kedua sahabat tersebut telah memutuskan meninggalkan medan peperangan ketika perang sedang berkecamuk. Hal itu memperlihatkan kepada kita pentingnya sebuah dialog dan tabayun.

Hendaknya kaum muslimin pada umumnya tidak mudah untuk diprovokasi dan diadu domba. Hendaknya seorang muslim berfikir secara cermat sebelum melakukan tindakan. Sebagai seorang muslim juga harus berfikir secara matang, jangan sampai karena memiliki kedudukan yang tinggi, mempunyai banyak pengikut, kita diperalat untuk menghancurkan islam ataupun diadu domba oleh pihak lain, sedangkan kita tidak menyadarinya.

Mengingatkan akan bahaya perpecahan dalam tubuh islam jika terjadi peperangan sesama kaum muslimin sendiri. Tidak menghalalkan harta seorang muslim dalam medan peperangan, tidak boleh mengejar yang lari, tidak mengambil ghanimah yang ditinggalkan, tidak membunuh yang sudah dalam keadaan lemah.

Sebagaimana wasiat Ali bin Abi Thalib ra.  Kita harus mengambil pelajaran dari setiap peristiwa di masa lampau. Para sahabat yang mendapatkan kemuliaan jauh dibandingkan kita, karena dahsatnya fitnah menyebabkan mereka saling berperang, apalagi pada zaman sekarang ini yang jauh dari keutamaan, dan islam pun selalu diadu domba.

Kita juga harus selalu waspada kepada seseorang atau kelompok yang mencoba menghancurkan islam, baik dari dalam islam sendiri ataupun dari luar.

Penutup

Perang Jamal adalah salah satu peristiwa yang terpenting dalam sejarah islam sehingga sebagai umat nabi Muhammad Shalallahu ‘alaih wasallam hendaknya mengetahuainya dan mencermatinya karena banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut. Jika kita salah dalam menyikapi peperangan ini, ataupun terperangkap dalam pandangan kelompok-kelompok yang salah, maka kita juga akan berbeda dalam menyikapi para sahabat yang tergabung dalam peperangan ini. Semoga Allah ta’ala selalu menunjukkan kepada kita jalan-Nya.

Demikian yang dapat penulis haturkan, dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari tentunya masih sangat banyak kekurangan, kesalahan ataupun pilihan kata yang kurang tepat. Untuk itu sekiranya penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar memperbaiki penulis untuk kedepanya.

Sumber Inspirasi

  • Ismail bin ‘Amr Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi, Imaduddin Abu Al-Fida Al-Hafizh Al-Muhaddits Asy-Syafi’i, Al Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafaur Rasyidin. (penerbit : Dar Al Wathan Riyadh 2002, edisi indonesia Darul Falah 2004 M).
  • Dr. Ali Muhammad Ash Sholabiy, BiografiAli bin Abi Thalib ra.
  • Ali Audah,Ali bin Abi Thalib ra sampa kepada Hasan dan Husain (penerbit : Pustaka Litera Nusa Bogor cetakan kesebelas juni 2013).
  • Hepi andi bastoni, sejarah para khalifah.
  • Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughirah Al Bukhari Abu Abdillah, Al Jami’ As Shohih Al Musnad Min Hadits Rasulillahi Shalallahu ‘alaihi wasallam wa sunanuhu wa ayyamuhu (Shohih Bukhori) (penerbit : Muaqi’ul Islam).
  • Muslim bin Hajaj Abul Hasan Al Qusyairiy An Naisaburiy, Al Jami’ As Shohih Al Musamma Shohih Muslim, (penerbit : Dar Ibnu Jauziy 2010).
  • Dr. Abdussyafi Muhammad Abdul Latif, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, (penerbit : Darussalam, kairo cetakan pertama 2008 edisi indonesia cetakan pertama februari 2014).
  • Imam Adz Dzahabi, Siyaru a’lami nubala.

 

Leave a Reply