Kemenangan Islam Dibalik Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah – Salah satu peristiwa besar yang terjadi pada tahun 6 H yang tidak akan dilupakan adalah peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian Hudaibiyah merupakan awal babak baru dalam kehidupan islam dan kaum muslimin. Kaum musyrikin Quraiys merupakan kekuatan yang paling menonjol dan paling gencar dalam memusuhi islam.

Dengan adanya perjanjian hudaibiyah  secara tidak langsung musuh utama kaum muslimin mengakui bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin bukan lagi sebagai pemberontak yang mengusik agama nenek moyang mereka.

Akan tetapi dengan adanya perjanjian hudaibiyah kaum musyrikin Qurays mengakui bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah mendirikan sebuah negara yang memiliki kebebasan dalam mengatur negaranya.

Perjanjian hudaibiyah menjadi titik kemenangan bagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin serta memperkokoh daulah islamiyah madinah pada waktu itu. Setelah adanya genjatan senjata antara pasukan muslimin madinah dan kaum kafir Qurays makkah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkonsentrasi pada musuh utama di madinah yaitu kaum yahudi.

Setelah yahudi ditaklukan, kaum Qurays melanggar perjanjian yang telah disepakati kedua belah pihak sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat berencana untuk menyerang Makkah. Dan pada akhirnya Makkah dapat ditaklukan dua tahun berselang setelah perjanjian hudaibiyah.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengingatkan kembali bagaimana perjuangan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam peristiwa perjanjian hudaibiyah serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada peristiwa tersebut agar menyadarkan kembali bagaimana perjuangan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam upaya menjaga eksistensi Daulah Islamiyah Madinah pada waktu itu.

Fakta Sejarah

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah bermimpi bahwa beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam telah memasuki kota makkah dan bertawaf di ka’bah. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan mimpi tersebut kepada para sahabat.

Para sahabat sangat gembira mendengarnya karena sudah lama sekali para sahabat meninggalkan Makkah dan Ka’bah. Orang-orang Muhajirin sangat merindukan kota Makkah.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan hal itu, para sahabat yakin bahwa mimpi tersebut akan berlangsung tahun ini. Hati para sahabat sangat senang, para sahabat pun bersiap-siap untuk berangkat bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Tidak tertinggal dari para sahabat kecuali hanya sedikit saja.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berangkat dari madinah pada hari senin bulan Dzulqa’dah pada tahun 6 H untuk melaksanakan umrah menuju Hudaibiyah bersama 1400 orang (ada yang mengatakan 1500 dan 1300). Untuk menghilangkan perasangka yang bukan-bukan dari pihak Quraisy, maka kaum muslimin memakai pakaian ihram dan membawa hewan-hewan qurban sebanyak 70 ekor unta untuk disembelih di Mina.

Mereka tidak memanggul senjata, hanya mambawa pedang dalam sarungnya sekedar menjaga diri dalam perjalanan. Rombongan pun sampai di Dzu’l-Hulaifa, sebuah desa yang berjarak enam atau tujuh mil jauhnya dari Madinah. Rombongan menyiapkan kurban dan mengucapkan talbiah.

Kaum Qurays mendengar keberangkatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mereka segera bermusyawarah. Mereka memutuskan untuk menghalangi kaum muslimin memasuki masjidil haram dengan cara apapun. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengalihkan rute perjalanan dan menghindari bentrokan fisik dengan pasukan Qurays.

Ketika sampai di Tsaniyatul Murar unta Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam menderum. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membentak unta beliau hingga bangkit, lalu berjalan lagi hingga memasuki ujung Hudaibiyah, di dekat suatu kolam yang disana hanya terdapat sedikit air dan tidak mencukupi kebutuhan para sahabat.

Setelah itu beliau Shalallahu ‘alahi wasallam memungut anak panah dari tabungnya lalu memerintahkan agar anak panah tersebut ditancapkan di kolam tersebut dan air pun memancar dengan deras.

Pasa saat itu Rsulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hendak mengutus seorang duta agar menegaskan kepada Quraisy tentang sikap dan tujuan beliau dari perjalanan kali ini. Beliau memanggil Umar bin Khatab dan hendak menjadikanya sebagai duta.

Namun Umar merasa keberatan karena permusuhanya yang hebat kepada kaum kafir Quraisy dan kaum kafir Qurasy mengetahuinya sedangkan kaumnya bani ‘Adi tidak melindunginya. Kemudian Rsulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengutus Utsman untuk menyampaikan maksud dan tujuan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka.

Usman bin Affan tak lama kemudian pergi menemui para tokoh Quraisy setelah terlebih dahulu minta jaminan keamanan kepada  Abban bin Sa’ad bin al-‘Ash al-Umawi. Lalu dengan  jaminan perlindungan itu ia menyampaikan maksud dan tujuan Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada tokoh-tokoh Quraisy.

Utsman melakukan tugasnya dengan baik, sampai-sampai para tokoh Quraisy mempersilakannya thawaf di Masjidil Haram. Tetapi Utsman menolaknya sebelum Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wasallam mendahului thawaf dulu sebelum dia tawaf di Masjidil Haram. kaum Qurays menahan Utsman bin Affan cukup lama sehingga kaum muslimin mengira Utsman telah dibunuh.

Rasululloh Shollallahu ‘alaihi wasallam langsung mengumpulkan para sahabatnya untuk berbai’at di bawah sebuah pohon. Mereka semua berbai’at untuk membalaskan kematian Utsman sampai titik darah penghabisan. Tetapi pada saat yang genting itu, tiba-tiba Utsman bin Affan muncul kembali di tengah-tengah mereka tepat setelah bai’at berlangsung.

Pasca Bai’at Ar-Ridhwan dari pihak Quraisy mulai mengutus beberapa orang utusan untuk melakukan tawar menawar dan perundingan dengan kaum muslimin. Sampai pada akhirnya datanglah Suhail bin Amru.

Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata dengan optimis, ”Sepertinya ia akan mempermudah perkara kalian!”. Terjadilah dialog yang panjang antara Suhail dan Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wasallam, perundingan berjalan alot, tapi di ujung perundingan tercapailah kata sepakat dari kedua belah pihak.

Butir Isi Perjanjian Hidaibiyah

Perundingan yang dilakukan antara pihak Qurasy yang diwakili oleh Suhail bin Amru, dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berjalan alot, tawar menawar keputusan terus terjadi.

Dari perundingan yang terjadi antara Rasulullah Shalallahu ‘alaih wasallam dengan utusan Qurasy yang diwakili oleh Suhail bin Amru menghasilkan keputusan diantara kedua belah pihak yang telah disepakati, diantaranya adalah:

1. Rasulullah harus pulang tahun ini dan tidak boleh memasuki Makkah kecuali tahun depan bersama kaum muslimin. Mereka diberi waktu selama 3 hari berada di Makkah dan hanya boleh membawa senjata yang biasa dibawa musafir, yaitu pedang yang disarungkan. Sementara pihak Qurasy tidak boleh untuk menghalangi dengan cara apapun.

2. Gencatan senjata diantara kedua belah pihak selama sepuluh tahun, sehingga setiap orang merasa aman dan setiap pihak tidak boleh memerangi pihak lain.

3. Barang siapa yang hendak membuat perjanjian dengan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dibolehkan, begitu juga siapa yang hendak membuat perjanjian dengan Quraisy dibolehkan pula.

4. Orang Quraisy muslim yang datang kepada kaum muslimin tanpa seizin walinya hendaklah ditolak oleh kaum muslimin dan dikembalikan kepada kaum Quraisy.

Sikap Para Sahabat Dalam Menyikapi perjanjian Hudaibiyah

Sikap para sahabat dalam menyikapi perjanjian ini sebatas pandangan secara kasat mata saja. Para sahabat belum mengetahui hikmah besar yang terkandung dalam peristiwa tersebut. Sehingga para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak setuju dengan adanya perjanjian hudaibiyah.

Hal ini dapat dilihat ketika Ali bin Abi Thalib menolak perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menghapus kata Ar Rahman, Ar Rahim dan Rasulullah, hingga akhirnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menghapusnya.

Kemudian ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyuruh para sahabat untuk menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut, akan tetapi tidak ada satu orangpun yang melaksanakan perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tersebut, hingga akhirnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam diberi nasehat oleh istri beliau Ummu Salamah, dan kemudian menyembelih kurban serta mencukur rambut hingga para sahabat mengikutinya.

Dan yang paling menampakkan ketidaksetujuanya adalah sikap Umar bin Khatab Ra. Terjadi percakapan antara Umar bin Khatab dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. “Bukankah engkau benar seorang Nabi Allah ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Tentu”.

Aku (Umar Radhiyallahu anhu) bertanya, “Bukankah kita di atas kebenaran sementara musuh berada di atas kebatilan?” Beliau menjawab, “Tentu” Aku bertanya, “Kalau begitu, kenapa kita memberikan kerendahan pada agama kita?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah, dan Aku tidak akan mendurhakai-Nya dan Dialah penolongku.

Aku bertanya, “Bukankah engkau telah mengatakan bahwa kita akan mendatangi Ka’bah kemudian kita melakukan ibadah thawaf di sana ?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar, (akan tetapi) apakah aku mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya pada tahun ini ?”. Aku menjawab, “Tidak!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan melakukan thawaf.” kemudian Umar mendatangi Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan mengutarakan perkataan yang sama seperti yang diutarakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu mengingatkan Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu , “Sesungguhnya ia adalah benar-benar utusan Allah dan dia tidak sedang menyelisihi Rabb-Nya dan Dialah penolong-Nya, patuhilah perintahnya! Demi Allah Azza wa Jalla sesungguhnya ia diatas kebenaran”.

Ketika Umar Radhiyallahu ‘anhu menyadari kesalahannya ini, Beliau Radhiyallahu ‘anhu merasakan penyesalan mendalam di dalam hatinya. Sehingga sejak saat itu, Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu memperbanyak ibadah kepada Allah Azza wa Jalla berharap keburukannya itu bisa terhapus dan digantikan dengan kebaikan.

Hikmah dari Perjanjian Hudaibiyah

Kalau dilihat secara kasat mata, melihat dari butir perjanjian yang disepakati oleh kedua belah pihak, maka akan memperlihatkan bahwasanya perjanjian hudaibiyah merupakan kerugian bagi umat islam. Kesepakatan yang dilakukan kedua belah pihak lebih menguntungkan kaum kafir Quarisy.

Akan tetapi disinilah letak kecerdasan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan adanya perjanjian ini Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaih wasallam dapat dengan bebas berdakwah. Maka sebenarnya dengan adanya perjanjian hudaibiyah merupakan awal kemenangan bagi umat islam karena berbagai alasan berikut ini.

1. Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah berarti pengakuan kaum Quraisy terhadap Daulah Islamiyah madinah pada waktu itu.

2. Dengan perjanjian Hudaibiyah itu kaum muslimin telah mendapat kesempatan mencurahkan perhatian sepenuhnya untuk menyiarkan agama islam tanpa suatu gangguan dari kaum musyrikin.

Ini terbukti setelah perjanjian itu diadakan, sampai penaklukan Makkah, kira-kira dalam masa dua tahun jumlah orang yang masuk islam melebihi dari jumlah sebelum perjanjian Hudaibiyah itu.

3. Setelah dikeluarkannya perjanjian Hudaibiyah itu, panglima-panglima Quraisy mulai memikirkan dan mempertimbangkan prinsip-prinsip agama islam, serta fakta-fakta yang membawa kepada kemajuan yang pesat.

Inilah yang mendorong panglima-panglima Quraisy seperti Khalid Ibnul Walid, Amru Ibnul Ash, dan Usman Ibnul Thalhah, berdatangan ke Madinah untuk menyatakan keislaman mereka. Peristiwa ini merupakan pertanda bahwa kota Makkah tidak lama lagi akan menyerah.

4. Perjanjian Hudaibiyah memberikan peluang kepada kaum muslimin untuk memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yahudi, yaitu untuk menyelamatkan diri dari tipu daya mereka.

Dengan perjanjian ini persekutuan antara Quraisy dengan orang-orang yahudi terpecah dengan sendirinya. Ini terbukti ketika Rasululloh menyerang orang-orang yahudi di khaibar pada tahun 7 Hijriah Rasululloh Shalallahu ‘alaih wasallam menang dalam pertempuran itu.

5. Di dalam masa aman dan tenteram yang menggantikan masa perang karena telah diadakan perjanjian Hudaibiyah, Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wasallam dapat merencanakan strategi yang jitu bagi perkembangan Daulah Islamiyah Madinah dan kehidupan kaum muslimin pada umumnya.

Peran penting perjanjian Hudaibiyah Dalam Tatsbitud Daulah

Jika dilihat dari sisi isi perjanjian maka seakan-akan kaum muslimin yang dirugikan. Akan tetapi fakta yang sebenarnya adalah awal dari kemenangan kaum muslimin. Kaum muslimin menjadi pemenang dan diuntungkan.

Pada peristiwa ini pula menggambarkan bagamana kecanggihan Rasulullah saw dalam berdiplomasi. Menyetujui perjanjian yang secara kasat mata terlihat merugikan umat islam. Akan tetapi Rasulullah Shalallahu ‘alahi wasallam memiliki pandangan yang berbeda dari para sahabat.

Saat penghapusan kata Ar Rahman dan Ar Rahiim serta Rasulullah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menghapusnya ketika Ali bin Abi Thalib tidak mau mengahapusnya. Hal ini menunjukkan kelembutan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat pandai dalam memanfaatkan perjanjian ini untuk berdakwah keluar madinah dengan mengirim surat kepada raja-raja. Dalam genjatan senjata Rasulullah juga memiliki kesempatan untuk memperkuat daulah islamiah dari segi militernya. Dan terlihat berkembang sangat pesat.

Terbukti pada saat fathu makkah atau dua tahun kemudian setelah perjanjian hudaibiyah pasukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang ikut dalam Fathu makah berjumlah sepuluh ribu pasukan. Dengan adanya genjatan senjata dengan kaum Qurasy, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkonsentrasi pada musuh kaum muslimin di madinah yaitu kaum Yahudi dan akhirnya dapat diatasi dengan serangkaian perang khaibar pada tahun 7 hijriah.

Di saat masa-masa itu terjadi kegalauan pada jantung pasukan Qurasy, yaitu Khalid Bin Walid yang sangat pandai dalam mengatur Strategi perang dan Amru Bin Ash yang sangat lihai dalam berdiplomasi serta Utsman bin Thalhah. Kemudian ketiga orang tersebut memutuskan untuk masuk islam.

setelah ketiganya tiba dihadapan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallsam, Rasulullah bersabda “Makkah telah menyerahkan jantung hatinya kepada kita”. Dengan masuknya ketiga orang tersebut ke dalam islam maka semakin memperkuat Daulah Islamiyah dari segi militer dan politiknya.

Banyak peperangan dibawah komando Khalid bin Walid yang mencapai kesuksesan. Inilah kemenangan yang sebelumnya tidak dipahami oleh para sahabat.

Aktualisasi Sejarah

Dalam peristiwa yang terjadi pada zaman dahulu tentunya ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dan kemudian dilaksanakan pada kehidupan sekarang ini. Pada peristiwa perjanjian hudaibiyah ini ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dan diaktualsasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya adalah :

1. Harus mentaati perintah seorang pemimpin selama masih berada dalam kebenaran dan tidak dalam hal kemaksiatan. Ketika keputusan seorang pemimpin kita menganggapnya sebagai sebuah kerugian, akan tetapi seorang pemimpin terkadang memiliki pandangan yang berbeda.

2. Seorang muslim hendaknya berfikir secara matang saat mengustus seseorang. Melihat seseorang yang tepat dalam melaksanakan tugasnya. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengutus Utsman bin Affan yang menggantikan Umar bin Khatab.

3. Walaupun kata “Ar Rahman, Ar rahim, dan Rasulullah, dihapus oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri, hal ini mengajarkan bahwasanya perjuanagan terdapat proses, butuh waktu, butuh perjuangan yang tidak instan.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam paham bahwasanya ada tujuan yang dicapai dibalik semua ini, dan paham ini hanya sebuah strategi untuk mewujudkan kemenangan islam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabar sejenak demi kebaikan yang lebih besar.

4. Pada peristiwa ini juga memberi contoh bermusyawarah, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang meminta pendapat kepada istrinya yaitu Ummu salamah, ketika kaum muslimin menolak perintah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.

5. Hendaknya bagi seorang pemimpin ataupun seorang muslim saat memberikan sebuah sebuah perintah kepada orang lain, seorang pemimpin ataupun orang muslim memberikan contoh terlebih dahulu. Sebagaimana Rasulullah memulai tahalul dan memotong hewan kurban sehingga para sahabat mengikutinya.

6. Hendaknya bagi seorang muslim selalu berhati-hati saat menjalin perjanjian dengan orang kafir akan penghiantannya. Karena pada hakekatnya orang kafir selalu mengingkari janji.

Banyak sejarah yang menyebutkan penghianatan orang-orang kafir ataupun musuh-musuh islam yang menghianati perjanjian dengan kaum muslimin. Seperti yang terjadi di Indonesia diantaranya penghianatan belanda terhadap pangeran Diponegoro.

Penutup

Setelah perjanjian hudaibiyah berlangsung Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kembali ke Madinah dan dan terus merancang strategi untuk eksistensi daulah islamiyah Madinah. Perjanjian hudaibiyah adalah salah satu peristiwa yang terpenting dalam sejarah islam sehingga sebagai umat nabi Muhammad Shalallahu ‘alaih wasallam hendaknya mengetahuainya dan mencermatinya karena banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut.

Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari tentunya masih sangat banyak kekurangan, kesalahan ataupun pilihan kata yang kurang tepat. Untuk itu sekiranya penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar memperbaiki penulis untuk kedepanya.

Sumber Inspirasi

  • Ar Rahiq Al Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarokfuri.
  • Sirah Nabawiyah, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad Saw. Abul Hasan ‘Ali Al Hasani An-Nadwi.
  • Shahih Sirah Nabawiyah. DR. Akram Dhiya’ Al-Umuri.
  • Sejarah Hidup Muhammad. Sejarah Nabi Muhammad saw. dari perioda pra-Islam sampai dengan wafatnya Nabi,  Muhammad Husain Haekal.
  • Sirah Nabawiyah Libni Hisyam.

Leave a Reply