Sejarah Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

Pada zaman revolusi, setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, Indonesia mengikrarkan kemerdekaannya. Akan tetapi, Sekutu tidak mengakuinya. Sebelumnya tentara Sekutu yang mendarat di kota Jakarta kemudian melanjutkan pendaratannya di Surabaya.

Pada tanggal 25 Oktober 1945, tentara sekutu mendarat di surabaya yaitu Brigade ke-49 dari Divisi ke-23 (Divisi India) di bawah pimpinan Brigadir Mallabay dengan pasukannya berjumlah 6.000 orang. Kedatangannya di Surabaya tidak menimbulkan ketegangan, hal ini terlihat dengan dibantunya pasukan Sekutu dalam mengurus tawanan perang.

Sebelumnya, di Surabaya telah terjadi penyerbuan oleh rakyat Indonesia pada markas-markas Jepang untuk merebut dan melucuti senjata jepang. Sekutu yang datang ke Indonesia merasa kuat kedudukannya setelah mendaratkan pasukannya di kota-kota Strategis di Indonesia.

Maka Sekutu menyebarkan pamflet-pamflet yang berisi supaya setiap orang Indonesia yang membawa senjata agar menyerahkan senjatanya, kalau tidak akan di tembak. Pamflet-pamflet tersebut ditandatangani oleh Jendral Mayor D.C. Howthorn yang menjabat sebagai komandan Sekutu untuk wilayah Jawa, Madura, Bali, dan Lombok.

Sejarah pertempuran 10 November 1945 di Surabaya dimulai dengan usaha belanda yang ingin menanamkan kekuasaannya kembali di Surabaya, maka terjadilah pertempuran antara Sekutu dengan rakyat Indonesia pada tanggal 28-29-30 Oktober 1945 di surabaya.

Pasukan Brigade ke-49 Sekutu terkepung dan hampir dapat dihancurkan oleh rakyat Indonesia, akan tetapi hal itu tidak terjadi. Karena pada tanggal 30 Oktober 1945, Bung Karno, Bung Hatta, dan Amir Syarifuddin datang ke Surabaya berusaha mendamaikan rakyat Indonesia dengan pihak Sekutu yang juga dihadiri oleh Howthorn.

Atas pengaruh Soekarno-Hatta maka dapatlah di capai perdamaian yang juga menyelamatkan Brigade Mallaby. Tetapi pada sore harinya, ketika Soekarno-Hatta dan Amir Syarifuddin bertolak ke Jakarta terjadi pertempuran lagi yang mengakibatkan Brigadir Mallaby tewas.

Sejak tewasnya Brigadir Mallaby, Inggris mulai lagi mendaratkan pasukannya di Surabaya dari Divisi India ke-5 sebanyak 24.000 orang dibawah pimpinan Jendral Mayor Mansergh. Setelah pasukan Sekutu di Surabaya, maka pada tanggal 9 November 1945, dikeluarkanlah ultimatum yang berisi ancaman bahwa Inggris akan mengerahkan semua Angkatan Laut, Udara, dan Daratnya, bila orang-orang Indonesia tidak menaati perintah-perintahnya.

Di samping itu ada instruksi-instruksi yang berisi 6 pasal. Pasal-pasal tersebut antara lain menyebutkan Bahwa semua pemimpin bangsa Indonesia, termasuk pemimpin-pemimpin Gerakan Pemuda Indonesia, Kepala Polisi, dan Kepala Resmi dari Radio Surabaya, harus datang ke Bataviaweg selambat-lambatnya pada jam 6 sore.

Mereka harus datang dengan berbaris satu persatu dengan membawa segala macam senjata yang ada pada mereka. Segala senjata tersebut harus diletakkan di tanah pada jarak 100 meter dari tempat pertemuan itu. Kemudian mereka harus maju dengan kedua belah tangannya diangkat diatas kepala masing-masing dan mereka akan ditahan, serta harus menandatangani surat penyerahan tanpa perjanjian apa-apa.

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya akhirnya benar-benar dimulai dengan tidak dihiraukannya ulitimatum yang di keluarkan oleh inggris.

Pada 10 November terjadilah pertempuran yang sangat dasyat di Surabaya. Inggris mengerahkan kapal perangnya, yang terdiri pesawat tempur, Alteleri dan tank-tank yang diikuti oleh tentaranya yang bersenjata lengkap memborbardir kota Surabaya.

Dalam situasi yang bergolak ini muncullah tokoh Bung Tomo dengan pidato-pidatonya yang berapi-api membangunkan semangat tempur rakyat untuk melawan Inggris.

Rakyat Surabaya baru dapat dipukul mundur oleh Inggris keluar kota, setelah memborbardir kota surabaya dengan dasyat selama 21 hari lamanya. Gigihnya perlawanan rakyat Surabaya diakui oleh Inggris baik melalui surat kabar Inggris maupun oleh pemimpin-pemimpin Inggris yang ikut mengambil bagian dalam pertempuran itu.

Setelah Pertempuran 10 November, Surabaya yang tidak dapat dipertahankan lagi. Pertahanan rakyat Surabaya kemudian dilakukan di luar kota, yaitu dengan memblokir Surabaya dari arah selatan (Wonocolo, Waru Sidoarjo), dari arah barat (Sepanjang jetis Mojokerto), dari arah utara(Gersik dan Lamongan).

Pertempuran-pertempuran Inggris di Surabaya sangat menyedihkan bagi Inggris. Demikianlah mereka menyebutnya sebagai Neraka, hal itu terbukti betapa beratnya peristiwa Surabaya itu bagi Inggris. Dengan timbulnya usul dari Jendral Dempsey pada 23 November 1945 selaku Panglima Sekutu Asia Tenggara, untuk mengosongkan Surabaya saja, sebab tidak cukup pasukan untuk mempertahankan banyak tempat bila terjadi pertempuran-pertempuran lagi.

Atas bujukan Belanda, rencana tersebut akhirnya ditinjau kembali dan dianjurkan untuk bertahan terlebih dahulu sampai Belanda siap untuk mengambil alih dan baru setelah 10 bulan kemudian Belanda mulai cukup kuat menyusun militernya.

Sejarah pertempuran 10 November 1945 di Surabaya dijadikan sebagai hari Pahlawan dan diperingari setiap tahun oleh rakyat Indonesia. Kejadian ini merupakan suatu lambang keberaniandan lambang kebulatan tekad membela tanah air dan kemerdekaan. Lambang ini kini diwujudkan dengan Tugu Pahlawan yang menjulang tinggi di tengah-tengah kota Surabaya.

Leave a Reply