Tembang Macapat Bahasa Jawa Beserta Contoh dan Artinya

Tembang Macapat – Di jenjang pendidikan SD hingga SMP khususnya daerah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, para siswa biasanya diajarkan kesenian bahasa Jawa. Salah satu kesenian bahasa Jawa yang umumnya diajarkan adalah tembang macapat (baca: tembang mocopat).

tembang macapat atau terkadang disebut tembung macapat merupakan kesenian yang mendasari banyak kesenian Jawa yang lain. Namun sayangnya kebanyakan masyarakat Jawa tidak mengenal tembang macapat satu persatu, tetapi mengenalnya dalam bentuk perkembangannya, seperti wayang kulit dan campur sari.

Jenis dan Macam-macam Tembang Jawa

Ada banyak sekali jenis tembang Jawa (puisi tradisional Jawa) yang sampai saat ini masih dilestarikan. Tembang-tembang ini bisa dikategorikan dalam 3 jenis, yaitu tembang cilik, tembang tengahan dan tembang gedhe. Kategori tembang cilik memuat sembilan metrum, tembang tengahan enam metrum dan tembang gedhe memuat satu metrum.

Sudah kita singgung sebelumnya, bahwa selain macapat (maca-pat-lagu) ada juga maca-sa-lagu, maca-ro-lagu dan maca-tri-lagu. Maca-sa merupakan tembang Jawa tertua yang diciptakan, tembang ini pertama kali dibawakan oleh sang pujangga istana Yogiswara dari Kediri. Saat ini tembang maca-sa lebih dikenal dengan nama tembang gedhe.

Maca-ro masih termasuk kategori tembang gedhe yang mana jumlah bait per pupuh bisa kurang dari empat bait dan jumlah suku kata dalam tiap baitnya tidak selalu sama. Maca-ro pertama kali diciptakan oleh Yogiswara. kategori ketiga adalah maca-tri, yaitu tembang tengahan yang diciptakan oleh Resi Wiratmaka, pandita istana Janggala. Kemudian maca-tri disempurnakan oleh Pangeran Panji Inokartapati dan saudaranya.

Jenis tembang yang terakhir adalah maca-pat atau tembang cilik yang diciptakan oleh Sunan Bonang kemudian diturunkan kepada semua Wali.

Pengertian Tembang Macapat

Bisa dibilang tembang macapat merupakan salah satu dari sekian tembang bahasa Jawa yang hingga saat ini masih dilestarikan. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya penembang Jawa yang sering membawakan tembang macapat. Selain itu tembang macapat juga dijadikan pelajaran ekstrakurikuler untuk siswa SD hingga SMP di Jawa dan sekitarnya.

Dalam bahasa Jawa, macapat berarti maca papat-papat (membaca empat-empat). Maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ada yang mengartikan bahwa arti pat dalam kata macapat merujuk kepada jumlah tanda diakritis (sandhangan) dalam aksara Jawa yang sesuai dalam penembangan macapat.

Arti macapat yang lain seperti yang disebutkan dalam Serat Mardawalagu karangan ranggawarsita, bahwa kata macapat adalah singkatan dari frasa maca-pat-lagu yang berarti “melagukan nada keempat”.

Sampai disini tentu kita sudah tahu bahwa tembang macapat adalah salah satu dari tiga jenis tembang yang dikembangkan oleh para pujangga dan seniman Jawa kuno. Sejak dahulu, tembang macapat ini digunakan sebagai suara vokal dalam karawitan Jawa. Tembang macapat memiliki beberapa ciri khas, ciri ini menunjukkan mutu serta kualitas dari seni macapat sendiri.

Asal Usul dan Sejarah Tembang Macapat

tembang macapat merupakan bagian dari tembang Jawa seperti yang sudah kita singgung sebelumnya. Lalu kapan sebenarnya tembang macapat pertama kali dibuat, hingga saat ini belum ada pendapat yang benar-benar bisa meyakinkan kapan pertama kali macapat dibuat.

Di Jawa tengah macapat diperkirakan muncul pada akhir masa kejayaan Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisongo, sedangkan di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam ke Nusantara.

Hal ini dibuktikan dengan adanya sebuah teks macapat dari Jawa Timur atau Bali yang berjudul Kidung Ranggalawe, teks ini diyakini ditulis pada tahun 1334 Masehi.

Akan tetapi pendapat ini masih disangsikan karena karya ini lebih dikenal dalam versi mutakhir daripada versi aslinya. Dan semua naskah yang memuat teks ini berasal dari Bali.

Kalau kita bicara tembang macapat, tentu kita akan dibawa jalan-jalan sedikit menyusuri masa lampau, yang mana pada masa itu pulau Jawa masih dikuasai oleh kerajaan-kerajaan yang terbagi dalam beberapa wilayah.

Asal usul tembang macapat merunut sejak dari kerajaan Mataram Kuno (Mataram Hindu), Kadiri, Singosari, majapahit, Demak Bintara, Pajang dan Mataram baru (Mataram islam) yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Ngayokyakarat Hadiningrat sampai sekarang.

karya-karya kesusastraan klasik Jawa dari masa kerajaan Mataram baru (mataram islam) umumnya ditulis dengan metrum macapat. Yaitu sebuah tulisan berbentuk prosa atau gancaran yang pada umumnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra, namun hanya dianggap semacam ‘daftar isi’ saja.

Beberapa contoh karya sastra Jawa yang ditulis dalam tembang macapat diantaranya Serat Wulangreh, Serat Wedhatama dan Serat Kalatidha.

Tembang macapat memasuki masa keemasan pada zaman pendidikan Belanda hingga menjelang kemerdekaan. Tembang macapat Dijadikan pelajaran baku pada anak-anak Sekolah Rakyat (SD), bukan hanya muatan lokal seperti sekarang.

Pada masa itu, hampir semua murid SR (SD) menguasai tembang macapat. Tembang macapat digunakan pada setiap kesempatan, baik pada pelajaran sekolah maupun berbagai lomba antar sekolah. Bahkan saat itu tembang macapat menjadi salah satu mata pelajaran yang dapat menentukan si murid naik kelas atau tidak.

Setelah kemerdekaan Indonesia, tembang macapat banyak digunakan dalam pagelaran seni rakyat Jawa, seperti bawa (tembang yang dinyanyikan sebagai pembuka lagu), pagelaran wayang kulit, wayang orang, campur sari, kethoprak, kelahiran bayi, pesta pernikahan, doa-doa dalam mengawali suatu acara, doa-doa untuk kesembuhan orang sakit dan upacara kematian.

Saat ini banyak orang yang hafal terhadap tembang-tembang tersebut, namun banyak yang tidak tahu kalau itu tembang macapat.

Struktur Aturan Baku Dalam Tembang Macapat

Dalam tembang macapat, seni ngripta (mengarang) bukan pada nada lagunya, karena nada lagu dalam tembang macapat telah ditentukan. Seni tembang macapat adalah bagaimana membuat isi dari tembang (cakepan) dapat dikembangkan dengan pas dan sesuai kaidah. Karena macapat memiliki kaidah baku dan tidak bisa dirubah sesuai kehendak pengarang.

Seni yang diutamakan adalah bagaimana menyampaikan maksud (isi tembang) dengan tetap mengikuti kaidah yang ada. Disini kemampuan memahami dan mengolah kosa kata dalam bahasa Jawa seorang pengarang macapat sangat menentukan.

Meskipun macapat penuh dengan aturan dan kaidah, tapi dalam memilih kosa kata tidak dituntut untuk menggunakan satu level bahasa Jawa. Misalnya hanya menggunakan bahasa ngoko, krama, krama madya atau krama inggil saja, bahkan bahasa kawi juga boleh dicampurkan ke dalamnya.

Untuk itu seorang pengarang macapat bisa mengikuti apa yang diinginkannya dalam pemilihan kosa kata untuk membuat sebuah tembang. Jadi sudah tidak aneh bila dalam satu bait tembang, seorang pengarang tembang menggunakan basa ngoko, kawi kemudian krama inggil sekaligus.

Pengertian Guru Lagu, Guru Gatra dan Guru Wilangan

Secara umum kaidah-kaidah dalam tembang macapat dibagi dalam tiga kaidah atau guru, antara lain:

  1. Guru Lagu yaitu persamaan bunyi akhir suku kata pada setiap baris (larik).
  2. Guru Garta yaitu aturan jumlah baris (larik) dalam tiap bait.
  3. Guru Wilangan yaitu jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris (larik).

Agar lebih mudah membedakan guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dalam tembang macapat, maka dapat memperhatikan tabel berikut ini:

struktur tembang macapat

Urutan Tembang Macapat

Beberapa pakar seni Jawa mengatakan bahwa nama-nama tembang macapat merupakan urutan tahap-tahap kehidupan manusia. Filosofinya menggambarkan tentang kehidupan seorang manusia dari lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa hingga meninggal dunia.

Bila diurutkan, maka tembang-tembang tersebut adalah seperti berikut:

1. Mijil (kelahiran)
2. Maskumambang (Mulai berkembang)
3. Kinanthi ((Mulai dituntun)
4. Sinom (Muda)
5. Asmaradana (Jatuh cinta, asmara)
6. Dhandhanggula (maunya yang manis-manis saja, enaknya sendiri)
7. Durma (suka udur, bertengkar, marah-marah)
8. Pangkur (mulai mungkur/tua)
9. Gambuh (mulai pikun)
10. Megatruh (putusnya roh/mati)
11. Pocung (menjadi pocong, dikubur)

 

Leave a Reply