Ketahui 7 Hal ini Sebelum Belajar Agama Islam

Belajar Agama Islam – Tak dapat  dipungkiri, segala sesuatu di dunia ini membutuhkan ilmu lebih-lebih untuk kehidupan yang abadi yaitu akhirat. Akan tetapi setiap orang berbeda dalam menyingkapi hal ini, diantara mereka ada yang malas dalam mencari ilmu.

Ada juga yang semangat sekali dalam mencari ilmu. Namun dalam mencari ilmu agama tidaklah cukup hanya bermodal semangat saja. Karena seorang penuntut ilmu haruslah tahu ketentuan-ketentuan yang telah digariskan syari’at dalam menuntut ilmu agama.

Agar seorang penuntut ilmu tidak bingung dalam menghadapi seruan dari banyak kelompok-kelompok da’wah. Dan yang paling penting, agar tidak jatuh kepada pemahaman yang salah atau menyimpang.

Pada zaman sekarang berbagai kelompok menawarkan jalannya dalam mempelajari  agama islam. Masing-masing pihak sudah pasti mengeklaim jalannya sebagai yang terbaik dan benar.

Melalui berbagai cara mereka berusaha meraih pengikut sebanyak-banyaknya. Perlu kita lihat di sekililing kita. Ada kelompok yang menawarkan jalan dengan ikut berdakwah melalui parlemen, ada yang menyeru umat untuk segera mendirikan khilafah islamiyah, ada juga yang berkelana dari daerah satu ke daerah lain mengajak manusia  ramai-ramai ke masjid.

Ahlu sunah wal jama’ah sebagai pewaris Nabi selalu berusaha mengamalkan apa yang diwasiatkan Rasulullah untuk mengajak umat kembali mempelajari agamanya.

Ahlus sunah wal jama’ah tidak akan pernah keluar dari jalan yang telah digariskan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, Adapun jalan yang ditempuh ahlus sunnah wal jam’ah dalam mencari ilmu agama sebagai berikut:

1. Mengambil Ilmu dari Sumber Aslinya yaitu Al qur’an dan Sunah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan kalian mengikuti para pemimpin selain-Nya, sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya.” (QS. Al-A’raf: 3)

Rasullullah juga bersabda :

“Ketahuilah bahwasanya aku diberi Al qur’an dan yang serupa dengannya bersamanya.” (Shahih.HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Miqdam bin Ma’di Karib. Lihat Shahihul Jami’ No. 2643)

Rekomendasi bacaan: Keutamaan Membaca Al quran

2. Memahami Al qur’an dan Sunah Sesuai dengan Pemahaman Salafush Shalih

Yang dimaksud dengan salafush shalih adalah para sahabat dan orang yang mengikuti mereka dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (Nabi) kemudian yang setelah mereka kemudian yang setelah mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebaikan yang berada pada mereka adalah kebaikan yang mencangkup segala hal yang berkaitan dengan agama baik ilmu, pemahaman, pengamalan dan da’wah.

Dengan demikian pemahaman mereka terhadap agama ini sudah dijamin oleh Nabi. Sehingga kita tidak ragu lagi bahwa kebenaran itu pasti berada bersama mereka.

Dan itu sangat wajar karena mereka adalah orang yang paling tahu tentang Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Tidak Melakukan Taqlid atau Ta’ashub (Fanatik) Terhadap Suatu Madzhab

Allah SWT berfirman :

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan kalian mengikuti para pemimpin selain-Nya, sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya.”(Al a’raf: 3)

Dengan jelas ayat diatas menganjurkan untuk mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah baik berupa Al qur’an maupun Hadist.

Sebaliknya ta’ashub (fanatik) pada madzhab akan menghalangi sesorang untuk sampai kepada kebenaran. Tak heran kalau sampai ada dari kalangan ulama’ madzhab mengatakan

“Setiap hadist yang menyelisihi madzhab maka itu mansukh (terhapus hukumnya) atau harus ditakwilkan (yakni diarahkan kepada makna yang lain)”.

Akhirnya madzhablah yang menjadi ukuran kebenaran bukan ayat atau hadist.

4. Waspada dari Da’i Jahat

Maksud dari da’i jahat adalah mereka yang membawa ajaran-ajaran yang menyimpang dari aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah sedikit atau banyak.

Dalam hadits yang diriwayatkan Hudzaifah Al Yamani disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada para sahabat nanti di akhir zaman akan ada da’i yang menyeru kepada pintu neraka.

Da’i tersebut mempunyai warna kulit serta bahasa yang sama dengan penduduk sekitar. Lebih lanjut Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada para sahabat untuk berpegang teguh kepada imam dan jamaahnya serta menghindari firqah (kelompok sesat).

(Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247. Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)

belajar islam

www.thecoaches.com

5. Memilih Guru yang Dikenal Berpegang Teguh kepada Sunah Nabi dalam Akidah, Akhlaq, Ibadah serta Muamalah

Dalam urusan agama seseorang tidak boleh asal sembarang dalam mengambil ilmu tanpa peduli dari siapa ilmu itu ia dapatkan.

Seorang tabi’in bernama Muhammad bin Sirin berkata :

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”. Beliau juga berkata: “ Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad (rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits, maka tatkala terjadi fitnah mereka mengatakan: sebutkan pada kami sanad kalian, sehingga mereka melihat ahlus sunah lalu mereka menerima haditsnya dan melihat kepada ahlul bid’ah lalu menolak hadistnya.” (Riwayat Muslim dalam Muaqaddimah shahihnya)

6. Tidak Mengambil Ilmu dari Sisi Akal atau Rasio

Karena agama ini adalah wahyu bukan hasil penemuan akal, maka dalam mengambil ilmu harus mendahulukan dalil daripada akal maupun rasio manusia.
Allah berfirman kepada Nabi-Nya :

“ Katakanlah (ya Muhammad) : Sesungguhnya Aku memberi peringatan kepada kalian dengan wahyu.”(QS. Al Anbiya’: 45)
“Dan tidaklah yang diucapkan itu (Al qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”(QS. An Najm: 3-4 )

Jadi tidak boleh bagi seseorang meninggalkan dalil yang jelas dari Al qur’an ataupun Hadist yang shahih karna tidak sesuai dengan akalnya. Seseorang harus menundukkan akalnya dihadapan keduanya.

7. Menghindari Perdebatan dalam Agama

Belajar agama islam dengan menghindari perdebatan

www.visimuslim.com

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah sebuah kaum sesat setelah mereka berada di atas petunjuk kecuali mereka akan diberi sifat jidal (berdebat) . Lalu beliau membaca ayat, artinya: “Bahkan mereka adalah kaum yang suka berbantah-bantahan .” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al bahili, dihasankan oleh As Syaikh Al Abani dalam shahihul jami’ no: 5633)

Ibnu Rajab mengatakan : “Diantara sesuatu yang diingkari para imam salafush shalih adalah perdebatan, berbantah-bantahan dalam masalah halal dan haram. Itu bukan jalannya para imam agama ini.”

Oleh karenanya Allah memerintahkan berdebat dengan cara yang paling baik.
Berikut firman Allah untuk berdebat dengan cara yang baik:

“Ajaklah kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah, mau’idhoh (nasehat) yang baik dan berdebatlah dengan yang paling baik.”(QS. An Nahl: 125 ).

Rekomendasi bacaan: Panduan Lengkap Sholat Dhuha

Para ulama’ menerangkan bahwa perdebatan yang paling baik bisa terwujud jika niat masing-masing dari dua belah pihak baik. Masalah yang diperdebatkan juga baik dan mungkin dicapai kebenarannya dengan diskusi.

Masing-masing beradab dengan adab yang baik, dan memang punya kemampuan ilmu serta siap menerima yang haq (benar) jika kebenaran itu muncul dari hasil perdebatan mereka.

Demikian 7 Hal yang harus diketahui sebelum belajar agama islam. Semoga kita dimudahkan dalam menuntut ilmu agama serta dimudahkan untuk mengamalkannya. Menjadi pribadi yang shalih dan bermanfaat untuk orang lain.

One Response

  1. agung s Februari 8, 2016

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.