Tuntunan Tata Cara Wudhu yang Benar Sesuai Petunjuk Nabi Muhammad SAW

Tuntunan Wudhu – Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam kita panjatkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di pembahasan yang lalu kita sudah membahas tentang tata cara shalat dhuha. Mulai dari dalil anjuran untuk melaksanakan shalat dhuha, keutamaan, tata cara hingga doa setelah shalat dhuha.

Kalau membahas tentang shalat tapi tidak membahas tata cara wudhu rasanya ada yang kurang. Karena syarat sah shalat harus suci terlebih dahulu.

Kali ini kita akan membahas mengenai wudhu, semua yang berhubungan dengan wudhu coba kita gali lebih jauh. Agar wudhu kita nantinya sempurna dan sesuai dengan yang diajarkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pengertian Wudhu

Kata wudhu berasal dari bahasa arab [ وُضُوْء ] yang berarti indah atau bersih. Sedangkan menurut istilah dalam kaidah fiqih, wudhu adalah ibadah untuk mensucikan diri dari hadats kecil dengan menggunakan media air berdasarkan syarat dan rukun tertentu.

Dalil Perintah Berwudhu

Wudhu telah disyariatkan sejak awal mula dakwah Islam bersamaan dengan waktu diwajibkannya shalat di Mekkah. Sebelum mengajarkan taca cara shalat kepada Nabi Muhammad SAW, Malaikat Jibril alaihisaaalam terlebih dahulu mengajarkan tata cara wudhu.

Dalil yang menunjukkan perintah berwudhu terdapat dalam nash berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَين

“Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki…” (QS. Al-Maidah: 6).

Sedangkan dalil dari sunnah termaktub dalam hadits berikut.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ النَّبِيَ ص.م. قَالَ: لاَيَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ اَحَدِكُمْ اِذَا اَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّاءِ ـ رواه الشيخان و ابو داود و الترمذى

“Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: Allah tidak menerima sholat salah seorang di antaramu, jika ia berhadats, sampai ia berwudhu lebih dahulu.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Turmudzi).

عَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ قَالَ : لاَ صَلاَةَ لِمـَن لاَ وُضُوْءَ لَهُ

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi SAW bersabda: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak berwudhu” (HR. Ahmad Abu Daud dan Ibnu Majah).

Suci Merupakan Syarat Sah Shalat

syarat yang harus dipenuhi dalam wudhu

500px.com

Suci dari hadats dan najis adalah salah satu syarat sah shalat. Artinya kalau tanpa bersuci terlebih dahulu shalat yang kita kerjakan tidak sah.

Untuk bersuci dari hadats besar kita diperintahkan mandi janabat, sedangkan untuk bersuci dari hadats kecil kita cukup mengerjakan wudhu atau tayamum jika tidak ada air.

Hadis di bawah ini menerangkan bahwa tidak sah shalat seseorang jika tidak suci baik badan maupun pakaiannya.

Dalil yang pertama dari jalur riwayat Ibnu Umar –radhiyallahu ‘anhuma-, beliau berkata,”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

“Tidak ada shalat kecuali dengan thaharah. Tidak ada sedekah dari hasil pengkhianatan.”[HR. Muslim no. 224]

Berdasar hadis ini Imam An-Nawawi menyimpulkan kewajiban thaharah untuk shalat, pun demikian ia juga merupakan syarat sah shalat.

Hadis yang kedua dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Shalat salah seorang di antara kalian tidak akan diterima -ketika masih berhadats- sampai dia berwudhu.“[HR. Bukhari no. 6954 dan Muslim no. 225]

Hadits yang kedua ini Rasulullah lebih spesifik menerangkan jika shalat seseorang tidak akan diterima hingga berwudhu.

Hal ini juga menegaskan kalau wudhu (suci) adalah syarat diterimanya shalat.

Niat Wudhu

niat dalam wudhu

simerg.com

Niat adalah keinginan dan kemauan untuk melakukan sesuatu. Seperti misal kita akan melaksanakan wudhu pasti dalam hati kita mempunyai keinginan untuk melaksanakan wudhu. Ini sudah cukup dikatakan niat wudhu.

Niat ini sangat penting sekali, karena yang membedakan suatu ibadah dengan pekerjaan biasa adalah niatnya. Jika tanpa niat yang benar, ibadah yang kita lakukan bisa tidak berpahala sedikit pun.

Pekerjaan yang kelihatannya sepele seperti makan jika kita niatkan agar kita kuat melaksanakan ibadah maka insya-Allah berpahala.

Secara umum, niat dilakukan di awal pekerjaan. Misal dalam puasa, niat dilakukan ketika seseorang selesai melaksanakan sahur atau sebelum terbit fajar. [lihat: Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (42/69)]

Menurut jumhur ulama, niat dalam wudhu adalah fardhu dan merupakan syarat sahnya wudhu. Pendapat ini dipegang oleh ulama di kalangan madzhab Malikiyah, Hanabilah dan Syafi’iyah.

Sedangkan ulama madzhab Hanafiyah berpendapat bahwa niat wudhu hanya sunnah dan wudhunya tetap sah jika tanpa disertai niat. [lihat: Asy Syarah al Kabir (1/93), Badai’ Ash-Shanai’ (1/17) , Fathul Qadir (1/32), Adz-Dzakhirah (1/190), Asnal Mathalib Syarh Raudhu At-Thalib (1/28), Raudhatu At-Thalibin (1/47), Mughni al Muhtaj (1/48),  Al-Inshaf(1/142), Al-Mughni (1/82)].

Waktu Melaksanakan Niat Dalam Wudhu

waktu melaksanakan niat dalam wudhu

www.dreaminterpretation.co

Para ulama madzhab berbeda pendapat tentang penetapan kapan waktu dimulainya niat wudhu. Beberapa penjelasan singkat ini semoga bisa memahamkan.

Madzhab Hanafiyah

Ulama madzhab Hanafiyah berpendapat bahwa niat untuk wudhu sunahnya dilakukan ketika awal membasuh telapak tangan. Hal tersebut dimaksudkan agar semua amal yang terkait dengan wudhu mendapat pahala, baik yang wajib maupun yang sunah.

Madzhab Malikiyah

Dalam menetapkan waktu melaksanakan niat wudhu, ulama madzhab Malikiyah memiliki beberapa pendapat. Sebagian berpendapat niat wudhu dilakukan ketika membasuh wajah dan boleh dilakukan sebelum itu.

Sedangkan sebagian lagi berpendapat niatnya dilakukan di awal memulai wudhu, sebagaimana pendapat dikalangan madzhab  Hanafiyah.

Madzhab Syafi’iyah

Ulama madzhab Syafi’iyah berpendapat bahwa niat wudhu wajib dilakukan ketika awal membasuh wajah. Hal tersebut karena aktivitas yang wajib dalam wudhu adalah membasuh wajah.

Sedangkan akivitas sebelum itu seperti membasuh telapak tangan, berkumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) serta istinsyar (mengeluarkan air dari hidung) hukumnya sunah. [lihat: Mughni al Muhtaj (1/171), Nihayatul Muhtaj (1/165)].

Madzhab Hanabilah

Pendapat ulama madzhab Hanabilah dalam masalah niat wudhu sama dengan pendapat ulama Syafi’iyah, yaitu niat wudhu dilakukan ketika awal membasuh wajah.

Rukun Wudhu

rukun dalam wudhu

500px.com

Rukun wudhu adalah suatu hal yang harus dilakukan saat mengerjakan wudhu. Jika ada salah satu saja rukun wudhu yang tidak dilaksanakan, maka wudhunya batal atau tidak sah.

Landasan dalil dalam menetapkan rukun wudhu disarikan dari firman Allah dalam surat Al-Maidah: 6, berikut bunyi ayatnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air, atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, bertayammumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan debu itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur”.

Berdasarkan ayat Al-Maidah: 6 tersebut, para ulama menyimpulkan rukun yang wajib dilaksanakan ketika berwudhu. Rukun wudhu tersebut adalah:

1. Niat

Seperti yang sudah dibahas di atas bahwa ulama berbeda pendapat tentang niat dalam wudhu. Jumhur ulama berpendapat niat wudhu wajib dan termasuk rukun wudhu, sedangkan ulama madzhab hanafiyah berpendapat niat wudhu sunah dan bukan merupakan rukun wudhu.

2. Membasuh wajah

Membasuh wajah yang wajib adalah pada basuhan pertama, sedangkan basuhan setelahnya hukumnya sunah. Batas wajah yang disepakati adalah hingga dagu serta perbatasan wajah dan rambut di kepala.

3. Membasuh kedua tangan

Yang diwajibkan dalam membasuh tangan hanya pada basuhan pertama, setelah itu hukumnya sunah. Disunahkan juga memulainya dengan tangan kanan.

4. Mengusap (menyapu) sebagian kepala

Cara menyapu kepala yang benar adalah dengan membasahi kedua telapak tangan dengan air, lau mengusapkannya mulai dari kepala bagian depan hingga bagian belakang.

5. Membasuh kedua kaki

Batas wajibnya membasuh kaki hingga membasahi mata kaki. Disunahkan pula membasuh celah-celah jemari kaki, hal ini dikarenakan kuman serta kotoran biasanya menempel pada celah jari-jari kaki.

6. Tertib

Maksudnya tertib ialah harus urut dan tidak mendahulukan bagian satu dengan bagian lain.

Sunah Wudhu

sunah yang dikerjakan dalam wudhu

live-av.info

Sunah wudhu adalah sesuatu yang bila dikerjakan akan menyempurnakan dan menambah pahala wudhu. Beberapa sunah wudhu tersebut adalah:

  • Membaca basmalah ketika hendak melaksanakan wudhu.
  • Membasuh kedua telapak tangan hingga pergelangan.
  • Berkumur-kumur
  • Memasukkan air ke hidung (istinsyaq) dan mengeluarkan air dari hidung (istinsyar).
  • Menggosok atau menyela pada jenggot yang lebat.
  • Mengusap seluruh kepala.
  • Membasuh kedua telinga.
  • Menggosok atau menyela jari-jari tangan dan kaki.
  • Membasuh sebanyak 3 kali setiap anggota wudhu.
  • Mendahulukan anggota wudhu yang kanan.
  • Mualat (tidak ada jeda antara membasuh satu rukun dengan rukun lain).
  • Berdoa setelah wudhu.

Tata Cara Wudhu dari Awal Hingga Akhir

tata cara melaksanakan wudhu

www.prayerinislam.com

Meskipun di atas sudah dibahas rukun dan sunah wudhu, namun ada baiknya kita bahas lagi taca cara wudhu dari awal hingga akhir. Agar bisa menyelaraskan pelaksanaan wudhu baik yang wajib maupun yang sunah. Berikut urutan tata cara wudhu yang benar dan sempurna.

  • Memulai wudhu dengan niat.
  • Membaca basmalah.
  • Membasuh kedua telapak tangan.
  • Berkumur-kumur.
  • Istinsyaq (menghirup air ke hidung) dan istinsyar (mengeluarkan air dari hidung).
  • Membasuh muka sambil menyela-nyela jenggot.
  • Membasuh kedua tangan sampai siku-siku.
  • Mengusap kepala.
  • Membasuh telinga.
  • Membasuh kedua kaki hingga mata kaki.
  • Tertib (urut) dalam melaksanakan wudhu.
  • Berdoa setelah wudhu.

Berikut video tata cara berwudhu yang baik dan sempurna.

Doa Setelah Wudhu

bacaan dan doa setelah wudhu

www.new-muslims.info

Doa setelah wudhu yang masyhur bersumber dari Rasulullah adalah seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Rasulullah bersabda,’Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan,

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

[Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah]. kecuali Allah akan bukakan untuknya delapan pintu langit yang bisa dia masuki dari pintu mana saja.”  (HR. Muslim no. 234; Abu Dawud no. 169; At-Tirmidzi no. 55; An-Nasa’i 1/95 dan Ibnu Majah no. 470).

Dalam riwayat Tirmidzi, ada tambahan doa,

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ

[Ya Allah jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang rajin bertaubat dan menyucikan diri]. (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ hadits no. 604).

Selain doa di atas, ada doa lain yang terdapat dalam hadits riwayat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”barangsiapa berwudhu kemudian mengucapkan doa:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِك أشهد أَن لَا إِلَه إِلَّا أَنْت استغفرك وَأَتُوب إِلَيْك

[Maha suci Engkau ya Allah, segala puji untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu]. maka akan ditulis di lembaran berwarna putih kemudian di-stempel dan tidak akan hancur sampai hari kiamat.” (HR. An-Nasa’i dalam ‘Amal Yaum wal Lailah no. 30).

Hal yang Membatalkan Wudhu

perkara yang membatalkan wudhu

500px.com

Wudhu seseorang bisa batal jika melakukan salah satu dari perbuatan berikut:

1. Berhadats (Buang air besar atau kecil)

Jika seseorang berhadats maka wudhunya batal, hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Maidah: 6 dan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

أَوْ جآءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغآئِطِ

“Atau salah seorang dari kalian kembali dari buang air besar…” (Al-Maidah: 6)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ، إِذَا أَحْدَثَ، حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 135).

Dua nash diatas menegaskan bahwa wudhu seseorang akan batal jika ia berhadats, baik buang air besar ataupun kecil.

2. Keluar angin dari dubur (kentut)

Keluar angin dari dubur (kentut) membatalkan wudhu, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Muttafaq ‘alaih berikut:

Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Al-Mazini radhiallahu ‘anhu berkata: “Diadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang menyangka dirinya kentut ketika ia sedang mengerjakan shalat. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا

Jangan ia berpaling (membatalkan shalatnya) sampai ia mendengar bunyi (kentut) tersebut atau mencium baunya.” (HR. Al-Bukhari no. 137 dan Muslim no. 361)

3. Keluar madzi atau wadi

Jika seseorang mengeluarkan air madzi atau pun wadi, maka wudhunya batal. Sebelumnya coba kita bahas sekilas tentang pengertiannya.

Madzi adalah air bening dan lengket yang keluar dari kemaluan. Madzi keluar disebabkan syahwat yang muncul ketika seseorang membayangkan jima’ (berhubungan badan), atau ketika suami istri sedang bercumbu rayu.

Sedangkan, wadi adalah air putih kental yang keluar dari kemaluan seseorang setelah kencing.

Wudhu seseorang akan batal jika mengeluarkan salah satu dari kedua air diatas. Dalilnya seperti yang disebutkan dalam hadits berikut.

Suatu ketika sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata:

“Aku seorang yang banyak mengeluarkan madzi, namun aku malu untuk bertanya langsung kepada Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena keberadaan putrinya (Fathimah radhiallahu ‘anha) yang menjadi istriku. Maka aku pun meminta Miqdad ibnul Aswad radhiallahu ‘anhu untuk menanyakannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab:

يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

Hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)

Demikian pembahasan mengenai wudhu. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply