Politik Islam, Hakikat dan Perjuangannya

Konflik politik belakangan ini memicu masalah kompleks yang terjadi di sekitar masyarakat. Mengapa tidak, segala yang dilahirkan dari politik sejatinya mempengaruhi kehidupan suatu masyarakat. Mulai dari pemerintahan, kebijakan ekonomi, hingga taraf kebutuhan masyarakat semuanya diakibatkan oleh kebijakan politik.

Maka salah jika ada anggapan dirinya tidak berhubungan dengan politik, karena yang menentukan sistem sosial adalah kebijakan politik.

Gambaran politik oleh masyarakat umum sayangnya sudah tergelapkan. Keterpurukan yang digambarkan oleh petinggi-petinggi negara saat ini sudah menghancurkan harapan masyarakat akan perubahan hakiki dari perpolitikan saat ini. Slogan “Dalam politik tak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi” sepertinya sudah lazim dibenarkan oleh kebanyakan masyarakat.

Tak memberikan banyak perubahan, malah semakin mencengkeram rakyat dengan ketidakjelasan hukum yang dibuatnya. Rakyat seolah tidak percaya dengan permainan politik, yang seharusnya untuk mengurusi rakyat malah dijadikan ‘sarana’ oleh beberapa oknum yang semakin lama semakin menjamur dalam kancah perpolitikan saat ini.

Konflik antar penegak hukum, perebutan kekuasaan antar partai pendukung, hingga kebijakan ekonomi yang berdampak pada lemahnya nilai mata uang dan meningkatnya angka kemiskinan. Mata politik ini seolah sudah panas akan keadaan yang tidak berganti dari dulu hingga kini, menunggu solusi yang mampu mengembalikan politik sekarang kembali kepada politik yang bersih.

Di satu sisi, islam sebagai agama yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia, tidak hanya menjelaskan masalah ruhiah (spiritual) namun juga siyasah (politik). Artinya, islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan akhirat (surga, neraka, hisab, pahala, dosa, dsb) juga mengatur hubungan manusia dengan urusan dunia, seperti politik, ekonomi, pemerintahan, sosial, budaya, pendidikan, hukum, dsb.

Dengan kata lain, islam sudah menjadi agama yang sempurna dan kewajiban seorang muslim yaitu melaksanakan kesempurnaan itu dengan sungguh-sungguh tanpa menolak sedikitpun. Sebab Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam islam secara menyeluruh (Kaffah)” (QS Al Baqarah: 208).

Politik dalam islam (as siyasah al islamiyah) tentunya berbeda dengan politik saat ini yang mudah untuk dipermainkan. Politik islam bermakna pengaturan urusan umat dengan aturan-aturan islam, baik itu dalam negeri maupun luar negeri.

Negara/pemerintah berperan sebagai lembaga yang mengurus urusan rakyat secara praktis, dan umatnya mengontrol negara/pemerintah dalam melaksanakan tugasnya. Keduanya mempunyai amanah yang sama dalam mengurusi tugasnya. Hal ini sudah menjadi kewajiban bagi muslim untuk peduli dengan muslim yang lain.

Rasul SAW bersabda: “Siapa saja yang bangun di pagi hari, sementara perhatiannya lebih banyak tertuju pada kepentingan dunia, maka ia tidak berurusan dengan Allah. Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum muslim, maka ia tidak masuk golongan mereka” (HR Al Hakim dan Al Khatib dari Hudzaifah ra.)

Di sini jelas tujuan politik islam yakni mengurusi urusan umat (ri’ayah syu’un al ummah), tentunya dengan menerapkan aturan islam sebagai dasar pengurusan umat. Ini bertentangan dengan politik dalam demokrasi yang menghalalkan segala cara, membuat dan menerapkan hukum-hukum buatan manusia tanpa memandang hukum Allah sebagai dasar pembuat hukum. Maka wajar zaman sekarang muncul anggapan “diatas hukum tuhan ada hukum konstitusi”.

Beberapa hukum dalam islam seperti hukum potong tangan atas pencuri (QS Al Maidah: 38), hukum cambuk atau rajam atas pezina (QS An Nur: 2), hukum qishash bagi pembunuh (QS Al Baqarah: 178), dsb. Islam pun memerintahkan muslim untuk berjihad perang meninggikan kalimat Allah. Hukum-hukum tadi hanya dapat dilaksanakan jika ada negara, tentunya negara yang menerapkan syariah islam.

Ikatan Ideologi

politik dalam islam

lawsarasota.com

Syaikh Taqiyyudin an Nabhani dalam kitabnya Nidzom al Islam menjelaskan bahwa mabda (ideologi) adalah aqidah aqliyah (akidah yang sampai melalui proses berfikir) yang melahirkan peraturan hidup menyeluruh. Mabda memiliki dua syarat: adanya fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode pelaksanaannya).

Namun demikian, adanya fikrah dan thariqah pada suatu akidah yang memancarkan peraturan , tidak berarti bahwa mabda itu benar. Yang menjadi indikasi benar atau salah adalah akidah mabda itu sendiri. Islam sebagai mabda mampu menjawab qaidah fikriyah yang dijadikan asas bagi setiap pemikiran yang muncul.

Kalau ditelusuri di dunia ini, kita hanya menjumpai tiga mabda. Mabda yang ada (selain islam) tidak lain hanya buatan manusia, maka tidak jauh dari kepentingan manusia itu sendiri. Kapitalisme sebagai mabda tegak diatas sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) sehingga lahirlah demokrasi yang memberikan kebebasan bagi rakyatnya untuk mengatur dirinya sendiri, menciptakan hukum hingga mengabaikan hukum Allah.

Bahkan mabda sosialisme atau komunisme mengingkari keberadaan tuhan, menganggap segalanya berasal dari materi dan akan kembali kepada materi.

Islam menjawab semua sesuai dengan batasan akal manusia sehingga mudah diterima. Islam menerangkan dibalik alam semesta, manusia, dan kehidupan terdapat al Khaliq. Begitupun keberadaan kita diatur dengan hubungan kita dengan sang Khaliq, dengan sesama manusia, maupun dengan dirinya sendiri.

Begitupun konsep keimanan dan syari’ah islam yang telah dijelaskan secara lengkap dalam dalil-dalilnya. Maka tidak lain bahwa islam satu-satunya solusi pemersatu umat yang saat ini sedang terpecah menjadi beberapa bagian.

Bersatulah Kaum Muslimin

sistem politik dalam islam

www.pexels.com

Banyak dalil yang menerangkan pentingnya umat muslim bersatu, terutama memiliki seorang pemimpin yang disebut Khalifah. Bahkan digambarkan dalam sejarah ketika Rasulullah SAW meninggal, pertama kali muncul di benak para sahabat yakni pengganti rasul sebagai pemimpin bagi umat islam dan negaranya.

Hal ini penting karena sehari saja umat muslim tidak punya pemimpin maka mudah untuk dihancurkan, sekalipun para sahabat lebih mementingkan pemilihan pemimpin daripada penguburan jenazah rasul yang ditunda selama tiga hari.

Sadarlah wahai kaum muslim, tak dapat kita menunjukkan siapa pemimpin kaum muslim saat ini. Tak ada seorang khalifah karena tak ada kepemimpinan bagi kaum muslim untuk mengangkatnya, yakni Khilafah. Tentu yang dimaksud Khilafah yang diharapkan oleh seluruh kaum muslim, tidak terbatas wilayah tertentu dan tanpa embel-embel ala kelompok tertentu.

Padahal islam telah memberikan pemecahan secara menyeluruh atas semua permasalahan dengan sejarah berkuasanya islam selama empat belas abad silam. Tak terkecuali ajaran islam tentang sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem sosial, dan seluruh aspek lainnya yang telah dipraktekkan oleh kaum muslim dulu.

Oleh karena itu, hakikat perjuangan politik bagi seorang muslim yakni memperjuangkan islam sebagai solusi permasalahan umat, dengan metode yang dicontohkan oleh Rasul.

Ada tantangan berat yang pasti dihadapi, salah satunya makar barat yang benci terhadap islam sehingga dibuatlah stigma negatif terhadap islam. Mereka akan tetap menghalangi tegaknya islam, hingga mereka lelah atas perbuatannya sendiri dan islam maju sebagai solusi problematika umat.

Oleh: Muhamad Afif Sholahudin

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.