Sejarah dan Perkembangan Bahasa Indonesia

Cikal bakal sejarah bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu kuno yang dalam perkembangannya melahirkan berbagai dialek regional dan dialek sosial, yang tersebar di wilayah Asia Tenggara. Bahasa melayu menurut para pakar berasal dari Kalimantan Barat.

Bahasa Melayu telah melahirkan berbagai dialek (ragam), yaitu bahasa Indonesia, bahasa Melayu Malaysia, bahasa Melayu Singapura, bahasa Melayu Brunei Darussalam.

Sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa sejarah bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu kuno adalah dengan ditemukannya sejumlah prasasti di pulau Sumatra, pulau Bangka, semenanjung Malaya, dan pulau Jawa. Prasasti-prasasti yang ditemukan tersebut sebagian besar menggunakan bahasa Palawa (huruf Palawa adalah aksara yang dibawa oleh orang-orang Hindu yang datang ke Indonesia).

Ada pula prasasti yang ditulis menggunakan bahasa Arab (Prasasti yang ditulis sesudah masuknya Islam ke Indonesia). Sampai sekarang sudah ditemukan 18 prasasti yang sudah terindetifikasi dan kemungkinan besar akan bertambah lagi.

Berikut adalah contoh bahasa Melayu kuno yang dikutip dari sebuah prasasti yang telah diterjemahkan ke huruf latin:

“Nipahat di welanya yang wala Griwijaya kalimat manampik yang Bhumi Jaya tidak bhakti ke Griwijaya”

Arti secara hafiah:

“Dipahat di waktu yang tentara Sriwijaya telah menyerang tanah Jawa tidak takluk ke Sriwijaya”

Arti yang sebenarnya:

“Dipahat pada waktu tentara Sriwijaya telah menyerang tanah Jawa yang tidak takluk ke Sriwijaya”

Dari kutipan diatas dapat dikenali kata-kata yang digunakan sampai saat ini antara lain pahat (digunakan hingga saat ini), wala (bala), Bhumi (Bumi), tida (tidak), bhakti (bakti), dan ka (ke).

Lingua Franca

Sejarah bahasa Indonesia tidak lepas juga dari pengaruh Lingua Franca. Lingua Franca adalah bahasa penghubung yang digunakan untuk berinteraksi dan berhubungan antara dua etnis atau lebih yang memiliki bahasa sendiri-sendiri.

Lingua Franca bahasa melayu diperkirakan digunakan sejak para pelaut dan pedagang rempah-rempah dari Maluku. Rempah-rempah secara estafet dibawa dari Maluku oleh para pedagang ke Gujarat (India). Selanjutnya dibawa ke Eropa melalui selat Malaka.

Bila angin sedang tidak bersahabat, mereka berlabuh di salah satu pantai timur Sumatra atau pantai barat Semenanjung Malaka. Disinilah mereka mengenal bahasa Melayu, dan dari sini pula bahasa Melayu mulai menyebar ke Jawa, Kalimantan Selatan, dan Maluku.

Bukti bahwa bahasa Melayu telah menjadi Lingua Franca adalah telah terbitnya daftar kata Cina-Melayu pada awal abad ke 15. Kemudian pada tahun 1522 terbit daftar kata Italia-Melayu yang disusun oleh Pigafeta ( Pigafeta adalah pakar bahasa yang ikut dalam pelayaran Magelhears untuk megelilingi dunia).

Selain itu pada tahun 1603 telah terbit kamus Melayu-Belanda yang disusun oleh Federick de Houtman di Amsterdam Belanda.

Bahasa Melayu juga digunakan pemerintah Hindia Belanda yang menjajah Indonesia sejak abad ke 16 untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan penduduk pribumi. Pemerintah Hindia Belanda menganggap bahasa Melayu penting dalam menjalankan administrasi negara jajahannya.

Sehingga mulailah bahasa Melayu dimasukkan sebagai sebuah mata pelajaran di sekolah-sekolah formal yang sebelumnya bahasa Melayu tersebut disempurnakan (distandarkan) oleh Ch. A. Van Ophuijsen pada tahun 1901.

Dialek/Ragam Bahasa Melayu

Penyebaran bahasa Melayu dari tempat asalnya yaitu Kalimantan Barat, telah memunculkan dialek-dialek sosial yang pada awalnya berupa pijin-pijin Melayu. Kemudian berkembang menjadi kreol-kreol melayu dan akhirnya menjadi dialek-dialek areal, seperti Melayu Betawi di Jakarta, Melayu Banjar di Kalimantan Selatan, Melayu Manado di Sulawesi Utara, Melayu Loloan di pulau Bali, Melayu Larantuka di Flores, dan Melayu Koskos di sebelah selatan pulau Jawa.

Selain penyebaran bahasa melayu ke daerah-daerah ini melahirkan dialek-dialek areal, juga melahirkan dialek-dialek sosial seperti bahasa Melayu rendah, bahasa Melayu pasar, dan Bahasa Melayu tinggi ( bahasa Melayu yang telah di standarkan oleh Van. A. Ophuijsen ).

Selain itu secara politis dengan berdirinya negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Kasultanan Brunei Darussalam dengah bahasanya masing masing, dan secara linguistik penduduk kermpat negara tersebut masih dapat saling mengerti dan berkomunikasi.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.