Mengenal Takdir Allah yang Ditetapkan untuk Makhluk-Nya

Takdir Allah – Semua yang terjadi di muka bumi ini merupakan ketentuan Allah. Baik berupa rezeki, ajal, untung, celaka dan segala hal yang terjadi di muka bumi ini, telah Allah tetapkan takdirnya. Banyak orang yang begitu menggebu untuk mencari kekakayaan dan keberuntungan, bahkan dengan cara-cara yang tidak dibenarkan syariat.

Di sisi lain ada sebagian orang yang enggan untuk bekerja, dalih yang biasa diucapkan adalah “kalau sudah takdirnya mau bagaimana lagi? “. Bagi kamu yang belum mengetahui takdir Allah, ada baiknya menyimak dan mengkaji bagaimana penjelasan para ulama’ berkaitan dengan takdir. Supaya kita tidak terjerumus dalam kesalahan dalam memahami takdir.

Takdir ada empat macam dan semuanya merupakan ilmu Allah, dalam artian merupakan rahasia Allah yang tidak dapat diketahui oleh seorang pun.

Berikut 4 takdir Allah yang ditetapkan untuk makhluknya:

1. Takdir Azali (Takdir Umum)

Takdir Allah - Takdir Azali

Takdir azali telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh)
Image by: sharonxx.wordpress.com

Takdir Azali yaitu takdir yang mencatat semua hal yang akan terjadi di dunia ini. Allah mencatatnya lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi bersamaan dengan penciptaan pena (qalam). Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam :

“tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” ( QS. Al-Hadid: 22 )

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwasanya beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wasalam bersabda, Allah telah menulis takdir segala makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, Beliau bersabda dan arsy-Nya berada diatas air “ ( HR. Muslim dalam shahih juz 8 hal. 51 )

2. Takdir Umuri

Takdir Allah - Takdir umuri

Takdir umuri ditetapkan ketika manusia berada dalam kandungan ibunya
Image by: lifeinthewombapp.com

Takdir Umuri adalah takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaanya ketika manusia berada di dalam kandungan Ibunya pada saat berusia empat bulan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasalam:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حدثنا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

“ Dari Abu Abdirrahman, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, dia berkata: ”Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan, ’Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama waktu itu juga (empat puluh hari), kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya.” (HR. Muslim  dalam shahih muslim juz 8 hal. 44)

3. Takdir Sanawi

Takdir Sanawi - Takdir Allah

Takdir sanawi dicatat setiap malam lailatul qadar
Image by: beritafoto.net

Takdir Sanawi adalah takdir yang dicatat setiap malam lailatul qadar, yaitu malam yang terjadi pada salah satu malam ganjil diantara sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan (iktikaf). Dalam surat Al-Qadar diterangkan bahwa malam lailatul qadar ini lebih baik daripada seribu bulan. Dalil yang menjelaskan adanya takdir sanawi terdapat pada surat Ad-Dukhan.

“pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul “ (QS. Ad-Dukhan: 4-5)

Baca juga: Ketahui 7 Hal ini Sebelum Belajar Agama Islam

4. Takdir Yaumi

Takdir Allah - Takdir Yaumi

Takdir Yaumi dicatat dalam kesehariannya
Image by: bagindaery.blogspot.com

Takdir Yaumi adalah takdir yang Allah tetapkan dalam keseharianya.

Dalilnya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

كُلَّيَوْمهُوَفِيشَأْنٍ

“Setiap waktu Dia (Allah) dalam kesibukan.” [Ar-Rahmaan/55 : 29]

Disebutkan mengenai tafsir ayat tersebut: Kesibukan-Nya ialah memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan (derajat), memberi dan menghalangi, menjadikan kaya dan fakir, membuat tertawa dan menangis, mematikan dan menghidupkan, dan seterusnya.

(Lihat, Zaadul Masiir juz VIII hal. 114, Tafsiir al-Quranil Azhim, Ibnu Katsir, juz IV hal. 275, dan Fathul Qadiir juz V hal. 136).

 

Apakah takdir bisa dirubah ?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad jilid 5 hal. 280, Al-Mustadrak jilid 3 hal. 481, menyebutkan:

لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

“ tidak ada ada yang menolak takdir kecuali do’a dan tidak menambah umur kecuali kebaikan, sungguh seorang hamba diharamkan rizkinya karena dosa yang menimpanya (yang ia kerjakan) “ (berkata Al-Hakim sanad hadits ini shahih dan Syaikh Al-Bani menshahihkan hadits ini ( lihat Al-Jawabul-Kafi hal. 18)

Sekilas jika kita membaca hadits tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa takdir bisa ditolak dengan do’a, dalam artian bisa dirubah. Namun bagaimana pernyataan para ulama berkaitan dengan masalah ini, berikut beberapa penjelasanya:

Takdir umuri, sanawi dan yaumi pada hakikatnya merupakan aplikasi dari pada ketetapan takdir azali (Syaikh Shalih Al-fauzan dalam kitabut-tauhid terjemah jilid 2 hal. 167).

Ibnul-Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa, seorang hamba mendapatkan apa yang telah ditakdirkan dengan melalui sebab yang telah ditetapkan baginya. Jika ia melaksanakan sebab tersebut, maka sampailah ia kepada takdirnya yang telah Allah tuliskan dalam ummul kitab. Semakin seseorang menambah kesungguhan dalam melaksanakan sebab, maka semakin dekat dengan apa yang ditakdirkan baginya.

Mmisalnya, seseorang yang ditakdirkan menjadi orang yang paling pandai di zamannya, maka ia tidak akan mendapatkan ilmu tersebut kecuali dengan usaha yang keras dalam belajar. Demikian pula orang yang ditakdirkan mendapat rizqi seorang anak, ia tidak akan mendapat rizqi itu kecuali menikah dan melakukan hubungan suami istri. (lihat Syifa’ul ‘Alil hal. 52-53, Darut Turats ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan, bahwa yang benar menurut Jumhur bahwa do’a merupakan sebab mendapatkan kebaikan yang diminta sebagaimana sebab-sebab yang masyru’ lainya. Dan sebenarnya sama saja apakah do’a tersebut kita sebut syarat atau sebab.

Intinya adalah sama saja, jika Allah menghendaki hambanya mendapatkan kebaikan maka Ia mengilhamkan kepada hamba tersebut do’a dan permohonan dan menjadikan do’a dan permohonanya tersebut menjadi sebab mendapatkan kebaikan yang telah Allah tetapkan. Jadi do’a itu sendiri merupakan bagian dari takdir yang telah Allah tetapkan (At-Ta’arudh fil hadits, Muhammad Az-Zughair jilid 1 hal. 79 ).

Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam :

قال رجلٌ للنَّبيِّ – صلّى الله عليه وسلّم – : يا رسول الله ، أرأيت أدويةً نتداوى بها ، ورقىً نَسْترقِي بها ، وتُقىً نتَّقِيها : هل تردُّ من قّدَر الله شيئاً ؟ قال : هِيَ مِنْ قَدَر الله

Seseorang bertanya kepada Rasulullah “ wahai Rasulullah bagaimana pendapat Engkau tentang obat yang kami berobat dengannya dan ruqyah yang kami meruqyah dengannya” Beliau (Rasulullah) bersabda “ dia termasuk takdir Allah “ (HR. Ibnu Majjah, Sunan Ibnu Majah juz 2 hal. 1137)

Maka, sebenarnya do’a tersebut tidak merubah takdir yang telah Allah tetapkan sejak azali. Namun, do’a merupakan salah satu sebab sebagaimana sebab-sebab yang lain.

Untuk itu merupakan kewajiban bagi kita untuk memperbanyak sebab, sehingga mudah-mudahan Allah mentakdirkan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat serta dimudahkan menuju takdirnya masing-masing. (lihat tafsir surat Al Lail dalam Tafsir Ibnu Katsir).

Wallahu a’lam bish shawab.

 

Leave a Reply